Gembira Belajar Membaca dan Menghafal Serta Tadabbur Al-Quran

Gembira Belajar Membaca, Menghafal dan Mentadabburi Al-Quran

Bismillahirrahmanirrahim

Pernahkah Anda diberi sesuatu yang sangat istimewa yang sudah lama diinginkannamun nyaris mustahil didapat karena harganya yang selangit?
Katakanlah, barang itu dikerjakan dengan ketelitian level master, mutu bahannya diambil dari kualitas tertinggi, jenisnya pun sangat langka dan hanya dibuat dalam jumlah terbatas bahkan satu-satunya. Tiba-tiba, suatu hari sebuah paket diantar ke alamat Anda dan benda itu ada di dalamnya, disertai nota singkat: “Hadiah untukmu, nikmati dan bergembiralah!” Bagaimana perasaan Anda? Sudah teramat jelas, bukan? Gembira, kaget, takjub, surprise luar biasa. Bahkan, tanpa disuruh bergembira pun Anda akan melakukannya.

Menghafal Al-Quran Semudah Tersenyum
Bersama Bunda Neno, Ust Bobby Lc, Prof. Syafii Antonio di Jakarta

Akan tetapi, sudah sangat lama ada suatu pemberian luar biasa di tengah-tengah kita, sementara kita belum juga merasa gembira karenanya. Bahkan, sampai-sampai si pemberinya menyuruh kita untuk bergembira. Sejauh itu, masih saja kita tidak menampakkan kegembiraan. Biasa-biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa. Pemberian apakah itu? Dialah Al-Qur’an.

Allah berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS Yunus: 57-58)

Sedikit renungan bagi kita. Di sini Al-Qur’an disebut dengan 4 sifat dan fungsi, yaitu mau’izhah (nasihat, pelajaran), syifa’ (obat, penyembuh), huda (petunjuk, bimbingan), dan rahmat. Inilah di antara fadha’il (keutamaan-keutamaan) Kitabullah yang paling pokok.

Sesungguhnyalah, tidak ada pemberian yang sesempurna ini. Ia merangkum semua yang kita butuhkan dalam mengarungi kehidupan. Nasihat dan pelajarannya meneguhkan hati, mengorientasikan pilihan, dan mengoreksi kesalahan. Obatnya menyembuhkan semua penyakit dan gangguan yang meresahkan jiwa, mengeruhkan hati, dan mengacaukan pikiran. Petunjuk-petunjuknya membimbing kita menuju jalan paling lurus dan terjamin keselamatannya menuju Allah. Adapun rahmatnya, ia merupakan bekal serta sandaran yang selalu kita butuhkan di atas seluruh keterbatasan, kekhilafan, dan kekurangseriusan kita. Kurang apa lagi?

Maka, sudah selayaknya kita bergembira diberi karunia sehebat itu. Tapi, benarkah kita bergembira menerimanya? Atau justru merasa susah mendapatinya? Sebenarnya, bagi orang yang benar-benar mengimami dan mengerti, Al-Qur’an itu jauh lebih baik dibanding seluruh harta dan kemegahan duniawi yang mereka kumpulkan. Ya, hanya bagi mereka yang mengimani dan mengerti.

Telitilah lembar-lembar Sirah Nabawiyah, dan akan kita dapati orang-orang yang telah memahami hakikat ini dengan sempurna. Dimulai dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri, empat khalifah pertama dan 6 orang lain yang dijamin surga, demikian seterusnya. Lihat saja Mush’ab bin ‘Umair yang melepas hak warisnya demi akidah ini. Karena iman ditinggalkannya keluarga konglomerat meski diancam tidak diberi warisan sepersen pun. Maka, pemuda yang semula dienal necis dan wangi ini, akhirnya gugur di Perang Uhud dalam kondisi tidak memakai pakaian yang cukup lebar untuk sekedar menutup jenazahnya secara sempurna.

Perhatikan pula Ummu Habibah binti Abu Sufyan yang memilih berhijrah ke Habasyah dibanding berdiam di tengah kaumnya yang kaya-raya namun musyrik. Ayahnya adalah pemimpin kaum kafir dan sangat keras memusuhi Islam. Ummu Habibah tidak peduli harus melarat di negeri asing, demi menjaga iman. Contoh-contoh lain seperti ini masih teramat melimpah.

Pada ayat di atas, kegembiraan terhadap karunia Allah berupa Al-Qur’an dinyatakan dalam bentuk fi’il amar (kata perintah). Dalam bahasa Arab, pola kalimat ini menyatakan sesuatu yang belum terjadi, masih menyimpan kemungkinan “iya” sekaligus “tidak” di dalamnya; dan disebut “jumlah insya’iyyah”. Lawannya adalah jumlah khobariyah”, yaitu pola kalimat yang isinya menceritakan sebuah fakta.

Mengapa kalimatnya diungkap dengan cara begitu? Demikianlah kenyataannya, bahwa kebanyakan kita belum bisa bergembira menerima Al-Qur’an, sehingga secara eksplisit Allah harus menyuruh kita mewujudkannya. Ayat ini tidak menyatakan: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya mereka bergembira.” Bukan begitu, sebab faktanya belum tentu demikian. Ayat ini tidak menceritakan sebuah kejadian. Ia menyuruh kita bergembira, atau mengupayakan supaya bisa bergembira, karena kegembiraan itu memang belum ada dan tidak satu paket bersama Al-Qur’an. Tapi harus diusahakan dan diperjuangkan agar menjadi ada. Maka, di sana dikatakan: “hendaklah dengan itu mereka bergembira.”

Pertanyaannya sekarang, “apakah keberadaan Al-Qur’an menggembirakan kita?” Bila belum, bagaimana upaya kita agar bisa mewujudkan perintah Allah ini? Bunyinya sangat jelas, tidak ambigu: “hendaklah dengan itu mereka bergembira.”

Sungguh Allah tahu bagaimana kita menyikapi kalam-Nya, sehingga secara khusus kita diminta bergembira. Jika saja Allah tahu bahwa kita pasti dan secara alamiah bergembira menerimanya, tentu akan dia ungkapkan di sini. Namun, karena kita tidak demikian, maka Allah pun harus menyuruhnya. Sungguh, kita memang tidak menghargai pemberian-Nya dengan sebenar-benarnya penghargaan, sehingga harus disuruh lebih dahulu. Bukankah emas, perak, dan harta benda duniawi seringkali lebih berharga dibanding firman-Nya? Astaghfirullah!

Ayat-ayat ini sekaligus menegaskan apa yang disampaikan dalam surah Al-Qalam, perihal nilai dan harga Al-Qur’an. Bahwa, dengannya hidup kita menjadi lurus, terarah, bermanfaat, bahagia, dan seterusnya. Kita tidak menjadi gila, resah, bingung, dan dipenuhi kesia-siaan. Di sana, Allah berfirman: “Berkat nikmat Tuhanmu, engkau (hai Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.” (QS Al-Qalam: 2). Wallahu a’lam. (*) Alimin Mukhtar. Kamis, 16 Syawal 1437 H.

Keutamaan Membaca dan Menghafal Al-Quran

KEUTAMAAN ALQURAN (MENYELAMI FIRMAN MENEGUHKAN IMAN)

“Inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi dan dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui”. (QS. Hud: 1)

Ibnu Qayyim dalam Muqaddimah Tahdzib Madaarij Assaalikin menuturkan, “Allah menurunkan Alqur’an untuk kita baca dengan penuh perenungan, untuk kita perhatikan dengan penuh kecermatan, agar kita bahagia dengan senantiasa mengingatnya, agar kita pahami perngertiannya yang paling baik, agar kita yakini, agar kita berusaha menegakkan semua perintah dan menjauhi semua larangannya, agar kita bisa memetik berbagai buah pengetahuan yang bermanfaat yang dapat mengantarkan kita menuju Allah lewat pohon-pohonnya, serta lewat taman dan bunganya. Ia merupakan kitab suci-Nya yang menerangi segala kegelapan. Ia merupakan rahmat-Nya, yang merupakan sebab yang menghubungkan antara diri-Nya dan para hamba-Nya, jika semua sebab terputus. Ia merupakan pintu_Nya yang paling agung yang menjadi tempat masuk. Pintu tersebut terbuka jika semua pintu lainnya tertutup.

Ia adalah jalan lurus yang menyelamatkan semua pandangan dari penyimpangan, zikir bijaksana yang mengendalikan nafsu, serta karunia yang selalu dibutuhkan para ulama. Berbagai keajaiban darinya tidak pernah lenyap, bagian-bagiannya tidak terlepas, ayat-ayatnya tidak pernah pudar, serta petunjuk-petunjuknya tidak bertentangan. Setiap kali mata hari ini merenungkannya, maka akan semakin mendapat petunjuk dan makin terlihat. Setiap kali dikaji, ia dengan sangat deras memancarkan mata air kearifan. Ia adalah cahaya yang mencerahi mata hati, obat yang menyembuhkan hati dari berbagai penyakit, serta kehidupan kalbu, kenikmatan jiwa, taman kalbu, dan pendorong ruh menuju alam bahagia. Itulah kalbu yang telah berinteraksi dengan alqur’an”.

Pernyataan ini merupakan hasil alamiah yang terpaut dengan Alqur’an. Jiwanya penuh dengan berbagai pengertian tersebut. Setiap bejana memang hanya mengeluarkan isinya.

Lantas bagaimana pernyataan tersebut bisa terlintas dalam kalbu kita? Diantara jawaban sekaligus pertanyaan adalah, bagaimana kita berinteraksi dengan Alqur’an? Bagaimana kita hidup bersama Alqur’an? Bagaimana kita terkesan dengan Alqur’an? Bagaimana kalbu kita memberikan respons ketika kita membaca Alqur’an? Bagaimana kita memperhatikan dan mengamalkan Alqur’an? Dari sinilah amal bermula dan menjadi titik permulaan. Continue reading “Keutamaan Membaca dan Menghafal Al-Quran”

Perbedaan Qiraah, Tilawah, Tadarus dan Tadabbur Al-Quran

Qiro’ah, Tilawah, Tadarus, dan Tadabbur Al-Quran

Generasi terdahulu umat Islam dari kalangan Sahabat dan Tabi’in kata
Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah selalu berkumpul untuk tilawah dan saling
menyimak Al-Qur’an dalam rangka menata hati dan mensucikan jiwa
mereka. Rumah-rumah mereka, khususnya di bulan Ramadhan, berdengung tak ubahnya lebah-lebah, terpancari sinar, bertabur kebahagiaan.  Mereka membaca Al-Qur’an dengan tartil, berhenti sejenak pada ayat-ayat yang membuat mereka ta’jub, menangis di kala mendengar
keindahan nasehat-nasehatNya, gembira dengan kabar kebahagiaan. Mereka mentaati perintahNya sebagaimana menjauhi larangaNnya.

Dan ternyata makna qiro’ah – tilawah – tadarus – tadabur memiliki
makna yang berbeda-beda aplikasinya dalam menyikapi Al Qur’an sebagai
kitab suci bagi umat muslimin ini. Lantas apa perbedaannya ? apa saja
definisi-definisinya ? Nah, mari kita tinjau sejenak bersama-sama.

Kata “tilawah” dengan berbagai derivasi dan variasi maknanya dalam
Al-Qur’an terulang/disebutkan sebanyak 63 kali. Kata tilawah ini dalam
beberapa kitab seperti dalam al-Mishbah al-Munir fi Gharib al-Syarh
al-Kabir, Al-Shahib Ibn ‘Ibad dalam al-Muhith fi al-Lughah, Ibnu
Mandhur dalam Lisan al-‘Arab, dan dalam Mukhtar al-Shihah, secara
leksial/harfiah mengandung makna “bukan sekedar” membaca (qiro’ah).

Hemat kata, tilawah Al-Quran dapat diartikan sebagai pembacaan yang bersifat spiritual atau aktifitas membaca yang diikuti komitmen dan kehendak untuk mengikuti apa yang dibaca itu. Sedangkan qiro’ah dapat dimaknai sebagai aktifitas membaca secara kognitif atau kegiatan membaca secara umum, sementara tilawah adalah membaca sesuatu dengan sikap
pengagungan. Oleh karena itu, dalam Al Qur’an kata tilawah sering
digunakan daripada kata qiro’ah dalam konteks tugas para Rasul
‘alaihimussalam. Continue reading “Perbedaan Qiraah, Tilawah, Tadarus dan Tadabbur Al-Quran”

Tingkatan Surga untuk Penghafal Al-Quran

Tingkatan Surga untuk Penghafal Al-Quran. Anda di mana? 

Allah SWT telah menjanjikan balasan surga bagi orang-orang mukmin yang bertaqwa. Tingkat keimanan dan ketaqwaan masing-masing orang berbeda dengan yang lainnya. Maka di surgapun derajat mereka berbeda-beda. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa surga terdiri dari seratus derajat.

Imam Al-Qurtubi dalam kitabnya At-Tadzkiroh Fi Ahwaalil Mauta Wa Umuuril Akhirah menguraikan beberapa riwayat tentang derajat surga tersebut. Diantaranya diriwayatkan oleh Tirmidzi, dari Atha’ bin Yassar, dari Mu’adz bin Jabal bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Surga itu ada seratus tingkatan, dan setiap tingkatannya jaraknya antara bumi dan langit. Tingkatan yang paling tinggi ialah surga Firdaus, dan yang paling utama juga surga Firdaus. Daripadanyalah mengalir sungai-sungai surga. Apabila kalian memohon kepada Allah, mohonlah surga Firdaus,” Kata Tirmidzi, Atha’ bin Yassar itu tidak mendapati Mu’adz bin Jabal.” Tetapi setahu saya, hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah secara sahih dan dengan isnad yang muttasil, seperti yang sudah dikemukakan sebelumnya.

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Wahab, dari Abdurrahman bin Ziyad bin An’am, dari Utbah bin Ubaid adh-Dhabyi, dari seorang perawi yang meriwayatkan hadist ini kepadanya bahwa seseorang datang kepada Nabi saw dan bertanya, “Wahai Rasulullah, ada berapa tingkatan di surga ?” Beliau menjawab, “Seratus tingkatan.. jarak masing-masing tingkat adalah setinggi bumi dan langit. Di tingkat pertama, kamar, rumah, pintu, ranjang, dan kunci-kunci pintunya terbuat dari perak. Di tingkat kedua, kamar rumah, pintu, ranjang, dan kunci-kunci pintunya terbuat dari emas. Dan di tingkat ketiga, kamar rumah, pintu, ranjang, dan kunci-kunci pintunya juga terbuat dari permata, mutiara, dan zamrud. Sedangkan, sembilan puluh tujuh tingkatan lainnya tidak ada yang mengetahuinya selain Allah.”

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Nabi SAW bersabda, “sesungguhnya di dalam surga ada seratus tingkatan. Seandainya seluruh makhluk alam berkumpul di salah satu tingkatannya saja, masih cukup menampung mereka.” Kata Tirmidzi, hadits ini gharib. Continue reading “Tingkatan Surga untuk Penghafal Al-Quran”