Keutamaan Membaca dan Menghafal Al-Quran

KEUTAMAAN ALQURAN (MENYELAMI FIRMAN MENEGUHKAN IMAN)

“Inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi dan dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui”. (QS. Hud: 1)

Ibnu Qayyim dalam Muqaddimah Tahdzib Madaarij Assaalikin menuturkan, “Allah menurunkan Alqur’an untuk kita baca dengan penuh perenungan, untuk kita perhatikan dengan penuh kecermatan, agar kita bahagia dengan senantiasa mengingatnya, agar kita pahami perngertiannya yang paling baik, agar kita yakini, agar kita berusaha menegakkan semua perintah dan menjauhi semua larangannya, agar kita bisa memetik berbagai buah pengetahuan yang bermanfaat yang dapat mengantarkan kita menuju Allah lewat pohon-pohonnya, serta lewat taman dan bunganya. Ia merupakan kitab suci-Nya yang menerangi segala kegelapan. Ia merupakan rahmat-Nya, yang merupakan sebab yang menghubungkan antara diri-Nya dan para hamba-Nya, jika semua sebab terputus. Ia merupakan pintu_Nya yang paling agung yang menjadi tempat masuk. Pintu tersebut terbuka jika semua pintu lainnya tertutup.

Ia adalah jalan lurus yang menyelamatkan semua pandangan dari penyimpangan, zikir bijaksana yang mengendalikan nafsu, serta karunia yang selalu dibutuhkan para ulama. Berbagai keajaiban darinya tidak pernah lenyap, bagian-bagiannya tidak terlepas, ayat-ayatnya tidak pernah pudar, serta petunjuk-petunjuknya tidak bertentangan. Setiap kali mata hari ini merenungkannya, maka akan semakin mendapat petunjuk dan makin terlihat. Setiap kali dikaji, ia dengan sangat deras memancarkan mata air kearifan. Ia adalah cahaya yang mencerahi mata hati, obat yang menyembuhkan hati dari berbagai penyakit, serta kehidupan kalbu, kenikmatan jiwa, taman kalbu, dan pendorong ruh menuju alam bahagia. Itulah kalbu yang telah berinteraksi dengan alqur’an”.

Pernyataan ini merupakan hasil alamiah yang terpaut dengan Alqur’an. Jiwanya penuh dengan berbagai pengertian tersebut. Setiap bejana memang hanya mengeluarkan isinya.

Lantas bagaimana pernyataan tersebut bisa terlintas dalam kalbu kita? Diantara jawaban sekaligus pertanyaan adalah, bagaimana kita berinteraksi dengan Alqur’an? Bagaimana kita hidup bersama Alqur’an? Bagaimana kita terkesan dengan Alqur’an? Bagaimana kalbu kita memberikan respons ketika kita membaca Alqur’an? Bagaimana kita memperhatikan dan mengamalkan Alqur’an? Dari sinilah amal bermula dan menjadi titik permulaan.

Pertama-tama terlintas sebuah pertanyaan, apa itu Alqur’an ? Ya, Alqur’an adalah firman Allah SWT. Tapi, mari kita renungkan kalimat tersebut, pahami dan rasakan. Ya, ia firman Allah SWT, ia kitab suci terakhir yang diturunkan kepada penduduk bumi melalui perantara Nabi Muhammad SAW. Allah menutup misi-Nya dengan Alqur’an. Alqur’an adalah firman Allah SWT yang ditunjukkan untuk kita. Dan kelihatannya kalau bukan karena kelalaian pasti kita semua mampu merasakan pengertian tersebut dengan baik. Pengertian tersebut adalah titik mula topik penting ini.

Allah SWT berfirman dalam surat Hud ayat 1 yang insyaallah artinya sebagai berikut “Inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi dan dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui”. Dalam surat an-Naml ayat 6 Allah SWT juga telah berfirman “Engkau diberi Alqur’an dari sisi Zat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”

Tidak ada lagi keutamaan yang lebih besar dari pada itu. Ia berasal dari sisi Allah SWT. “Kami turunkan dari Alqur’an sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi kaum mukmin. Dan Alqur’an itu bagi orang yang Zalim hanya menambah kerugian.”
(QS. Al Israa’:82)

Kita terkena penyakit insomnia (susah tidur) dan tidak bisa konsentrasi, tetapi tidak membaca Alqur’an. Mengapa demikian? Ternyata Alqur’an itu merupakan obat. Jangan sampai menjadi korban yang menyerukan sikap apatis (tidak mau tahu). Mari kita renungkan kata tersebut serta memposisikan al-Qur’an sebagaimana para sahabat memposisikannya sebagai sesuatu yang segar dan baru. Al-Qur’an merupakan rahmat bagimu, wahai orang yang beriman dan kita harus berhati-hati terhadap balasan kaum zalim sebagaimana firman Allah SWT “sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Alqur’an ketika Alqur’an itu datang kepada mereka (pasti celaka). Alqur’an itu datang kepada mereka (pasti celaka). Alqur’an adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji.”
(QS. Fushshilat:41-42).

Kita seharusnya heran, kenapa kalbu kita menta’ati kita dengan tidak membaca Alqur’an? Allah SWT berfirman, “kami turunkan kitab Alqur’an kepadamu sebagai penjelasan bagi segala sesuatu, petunjuk, rahmat,  dan kabar gembira bagi kaum muslim.”
(QS.An-Nahl:89).

Sementara di ayat lain Allah SWT juga berfirman “jikalau kami jadikan Alqur’an itu sebagai bacaan dalam bahasa lain selain bahasa Arab, tentu mereka mengatakan, ‘mengapa ayat-ayatnya tidak dijelaskan? Apakah patut dalam bahasa asing sedangkan Rasul adalah orang Arab?’ Katakanlah, Alqur’an merupakan petunjuk dan obat bagi mereka yang beriman. Sementara orang-orang yang tidak beriman terdapat sumbat pada telinga mereka dan Alqur’an gelap buat mereka. Mereka seperti orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (QS.Fushshilat:44)

Di ayat lain Allah SWT juga berfirman, “Telah datang kepada kalian keterangan dari Tuhan kalian. Dan kami turunkan kepada kalian cahaya yang terang.” (QS. Annisa’:174)

 

Petunjuk, rahmat, kabar gembira, dan obat. Mengapa kata-kata ini sama sekali tidak terlintas atau bahkan tidak menyentuh kalbu kita.

Imam Ali bin Abi Thali KWJ bercerita, “aku mendatangi Nabi SAW. Lalu beliau berkata, ‘Wahai Ali, fitnah akan datang.’ Aku pun bertanya, ‘Lalu apa jalan keluarnya wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘kitabullah, didalamnya ada cerita tentang generasi sebelum kalian, informasi tentang generasi sesudah kalian, serta hukum yang berlaku antara kalian. Ia adalah pemisah (antara yang benar dan yang batil), bukan kelakar, orang zalim yang meninggalkannya pasti Allah hancurkan, orang yang mencari petunjuk pada selainnya, pasti Allah sesatkan. Ia adalah tali Allah yang kokoh. Dia adalah Zikir yang penuh hikmah. Dan Ia adlah jalan yang lurus. Siapa yang berkata dengannya pasti benar, siapa yang berhukum dengannya pasti adil, siapa yang mengamalkannya diberi pahala, siapa yang menyeru kepadanya mendapat petunjuk ke jalan yang lurus. Dengannya nafsu tidak akan menyimpang dan lisan tidak akan kacau.”

Para ulama tidak pernah puas dengannya, dan mereka yang bertaqwa tidak akan pernah jemu kepadanya. Ia tidak usang karena banyak diulang, keajaibannya tidak pernah pudar. Ketika para jin mendengarnya, mereka berkata, ‘kami telah mendengar Qur’an yang menakjubkan, yang menunjukkan kebenaran, maka kami pun mengimaninya.” (HR Al-Darami: 2/435).

Ya, engkau benar wahai Rasulullah. Akan terjadi fitnah. Dan jalan keluarnya ada bersama kita. Didalamnya ada berita tentang generasi sebelum kita, informasi tentang generasi sesudah kita, serta hukum diantara kita.

Demikianlah Alqur’an senantiasa sesuai untuk setiap waktu dan tempat seperti yang dijelaskan Oleh Baginda Rasulullah SAW yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya. Dengan Alqur’an nafsu tidak akan tersesat. Benar, siapa yang menjadikan Alqur’an sebagai jalan dan pemimpinnya, ia tidak akan tersesat. Ia juga tidak lapuk atau usang karena sering diulang. Pernahkah kita mendengar seseorang yang membaca sebuah buku sampai habis sebanyak dua puluh kali? Tentu saja mustahil. Ia pasti merasa bosan dan jenuh. Adapun Alqur’an setiap kali kita membacanya setiap itu pula kita bertambah rindu, bertambah senang, dan bertambah cinta padanya. Apakah kita merasakannya atau kita hanya sekedar membacanya?

Keutamaan membaca Alqur’an
Sekarang, marilah kita mulai menyusun beberapa pemikiran. Pertama kita mulai dengan keutamaan membaca Alqur’an. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Bacalah Alqur’an, sebab Ia akan datang pada hari kiamat sebagai penolong (pemberi syafa’at) bagi  mereka yang membacanya.” (HR. Muslim & Ahmad). Sebuah hadist yang tentunya disenangi kalbu yang beriman. Ia senang membaca Alqur’an siang dan malam, setiap kali ada waktu, ia selalu rindu untuk membacanya. Jiwanya tenang seraya mengharapkan kemurahan kepada Allah SWT agar Alqur’an menjadi Syafa’at baginya. Ketika kitab Allah menjadi pemberi Syafa’at bagi kita, mungkinkah kita disiksa? Mungkinkah kita di hisab dengan hisab yang sulit?

Ada hal yang menarik, tidakkah kita memperhatikan bahwa Rasulullah SAW menyatakan, “Bacalah Alqur’an!” bukan, “hafalkan Alqur’an”. Begitu dalam makna yang terkandung dalam pesan Rasulullah SAW, seorang Nabi yang benar-benar cinta terhadap umatnya. Setidaknya dari sini kita mampu menelaah diri sekaligus menuntun diri kita untuk senantiasa memperbanyak untuk membaca Alqur’an agar kelak ketika kita memasuki hari kiamat sebagai hari terindah.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Pada hari kiamat, Alqur’anbersama orang yang mengamalkannya didunia akan didatangkan. Lalu Surat Al-baqarah dan Ali-‘Imran mendahului maju untuk membela pembaca kedua surat tersebut.” (HR. Muslim & Ahmad) Dalam Hadist lain disebutkan, “Surat al Baqarah dan Al ‘Imran datang seperti dua awan.” (HR. Muslim:1871).

Tidakkah kita merasakan kalimat ini: Orang-orang yang mengamalkannya di dunia. Apakah kita termasuk yang mengamalkan isi kandungan Alqur’anatau justru kita termasuk orang yang berpaling? Sebenarnya kita mampu melihat dimata dan batin kita ada semangat untuk berjuang. Semoga Allah memberi kita Taufiq untuk bisa menjaga keduanya. Kedua surat tersebut kelak akan datang kepada kita sebagai pembela dan akan membela serta bersaksi di hadapan Allah SWT Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tidak boleh iri kecuali pada dua hal: (1) Orang yang diberikan pemahaman Alqur’an, lalu ia membacanya siang maupun malam; (2) Orang yang dikarunia harta, lalu ia menyedekahkannya siang maupun malam.” (HR. Bukhari, Muslim & at-Tirmidzi). Yang dimaksud dengan iri di sini adalah kita berharap bisa memiliki karunia seperti yang orang lain miliki tanpa mengharapkan lenyapnya karunia itu dari orang tersebut.

Rasulullah SAW bersabda, “Dada yang tidak sedikitpun terisi Alqur’an seperti rumah yang rapuh.” (HR. Tirmidzi). Manusia selalu berupaya tampil baik di hadapan manusia. Akan tetapi ia tidak memerhatikan sisi batinnya sendiri. Sungguh perumpamaan yang buruk, semoga hal ini mampu menggugah kita untuk senantiasa mawas diri. Dalam hadist tersebut Rasulullah SAW mengatakan, ‘Yang dadanya tidak terisi’ sementara banyak yang telah hafal banyak surat Alqur’an. Tidaklah kita malu, mungkin beberapa waktu yang lalu tidak satu huruf pun dari Alqur’an kita baca. Dimanakah risalah Allah yang diberikan kepada kita? Dimanakah kita letakkan ia dalam hidup kita? Tidaklah masuk akal bila kita mengaku mencintai teman kita yang pergi jauh namun tidak kita baca satu surat pun dari ratusan surat yang ia kirimkan pada kita. Apakah ini masuk akal? Sebenarnya hanya milik Allah-lah perumpamaan yang paling mulia. “Siapa yang membaca satu huruf dari kitabullah, ia memperoleh satu kebaikan. Dan kebaikan tersebut diganjar dengan kebaikan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alim Lam Mim satu huruf. Tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi). Ini salah satu hadits serta keterangan yang sudah kita hafal diluar kepala bahkan terlalu sering kita mendengarnya. Namun, selalu saja ia keluar dari mulut yang dirahmati Allah SWT. Setiap huruf mendapat satu kebaikan sementara kebaikan itu sendiri dibalas dengan sepuluh kali lipat. Kalimat bismillahirrahmanirrahim ada 19 huruf. Artinya secara matematis ada 190 kebaikan.

Rasulullah bersabda,”Ahli Alqur’an adalah keluarga Allah SWT dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Imam Ahmad). Keluarga Allah maksudnya adalah para kekasih Allah. Alqur’an menjadi agama mereka, baik dalam kehidupan, pergaulan, gerak, maupun dalam diam mereka. Lisan mereka selalu melafalkan dan menyuarakannya. Betapa bahagia mereka-mereka yang membaca Alqur’an, sabda Nabi SAW, ”Diserukan kepada pembaca Alqur’an, ‘baca, baik, dan lafalkan dengan tartil, sebab kedudukanmu berada di akhir ayat yang kau baca.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, & Imam Ahmad) Ada yang perlu diperhatikan dalam hadist ini. Yaitu, dimana si pembaca Alqur’an itu diseru? Apa di hari kiamat? Tidak, tetapi ketika masuk surga. Hal ini menunjukkan bahwa ia adalah yang mengantar ke surga sekaligus meninggikan derajat kita. Alqur’an mempunyai dua peran: pertama, memberi syafa’at ketika hari akhir; kedua, meninggikan derajat di surga. Yang dimaksud dengan pembaca Alqur’an disini adalah orang yang terus membaca Alqur’an serta mengamalkannya dalam kehidupannya. Kita perhatikan Nabi kita Muhammad SAW bahwasannya akhlak beliau adalah Alqur’an.

Dalam hal ini kita tidak harus menerapkan semua isi Alqur’an. Tetapi, kita harus berusaha dan bersungguh-sungguh serta terus berusaha menerapkan isi Alquran. Ditulis ulang dari Buletin Al-Huda. Penulis: Shofiyul Himami Bafagih.

MUTIARA HADITS
Anas r.a berkata: siapa yang mengajarkan anaknya Alqur’an dengan melihat, maka diampunkan baginya dosanya yang lalu dan yang akan datang, dan siapa yang mengajarkannya dengan hafalan, maka setiap anak itu membaca satu ayat, Allah menaikkan ayahnya satu derajat hingga akhir ayat yang dihafalkan (HR. Atthabrani).