Perbedaan Qiraahm Tilawah, Tadarus dan Tadabbur Al-Quran

Qiro’ah, Tilawah, Tadarus, dan Tadabbur Al-Quran

Generasi terdahulu umat Islam dari kalangan Sahabat dan Tabi’in kata
Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah selalu berkumpul untuk tilawah dan saling
menyimak Al-Qur’an dalam rangka menata hati dan mensucikan jiwa
mereka. Rumah-rumah mereka, khususnya di bulan Ramadhan, berdengung tak ubahnya lebah-lebah, terpancari sinar, bertabur kebahagiaan.  Mereka membaca Al-Qur’an dengan tartil, berhenti sejenak pada ayat-ayat yang membuat mereka ta’jub, menangis di kala mendengar
keindahan nasehat-nasehatNya, gembira dengan kabar kebahagiaan. Mereka mentaati perintahNya sebagaimana menjauhi larangaNnya.

Dan ternyata makna qiro’ah – tilawah – tadarus – tadabur memiliki
makna yang berbeda-beda aplikasinya dalam menyikapi Al Qur’an sebagai
kitab suci bagi umat muslimin ini. Lantas apa perbedaannya ? apa saja
definisi-definisinya ? Nah, mari kita tinjau sejenak bersama-sama.

Kata “tilawah” dengan berbagai derivasi dan variasi maknanya dalam
Al-Qur’an terulang/disebutkan sebanyak 63 kali. Kata tilawah ini dalam
beberapa kitab seperti dalam al-Mishbah al-Munir fi Gharib al-Syarh
al-Kabir, Al-Shahib Ibn ‘Ibad dalam al-Muhith fi al-Lughah, Ibnu
Mandhur dalam Lisan al-‘Arab, dan dalam Mukhtar al-Shihah, secara
leksial/harfiah mengandung makna “bukan sekedar” membaca (qiro’ah).

Hemat kata, tilawah Al-Quran dapat diartikan sebagai pembacaan yang bersifat spiritual atau aktifitas membaca yang diikuti komitmen dan kehendak untuk mengikuti apa yang dibaca itu. Sedangkan qiro’ah dapat dimaknai sebagai aktifitas membaca secara kognitif atau kegiatan membaca secara umum, sementara tilawah adalah membaca sesuatu dengan sikap
pengagungan. Oleh karena itu, dalam Al Qur’an kata tilawah sering
digunakan daripada kata qiro’ah dalam konteks tugas para Rasul
‘alaihimussalam.

Syaikh Ibnu Utsaimin dalam kitabnya Majalis Syahr Ramadlan menguraikan
cakupan makna tilawah dalam dua macam :

Pertama – Tilawah hukmiyah, yaitu membenarkan segala informasi Al
Qur’an dan menerapkan segala ketetapan hukumnya dengan cara menunaikan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Kedua – Tilawah lafdziyah, yaitu membacanya. Inilah yang keutamaannya
diterangkan oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadits Bukhari: خَيرُكُم مَنْ
تعَلَّمَ القُرآنَ وعَلَّمَه; sebaik-baiknya diantara kamu adalah yang belajar Al Qur’an dan yang mengajarkannya”.

Adapun kata tadarus berasal dari kata (darosa) yang berarti membaca
(qiro’ah) atau berlatih dan selalu menjaga (الرياضة والتعهد للشيئ).
Ketika ada imbuhan huruf ta’ dan alif pada kata darasa, maka maknanya
berubah menjadi ‘saling membaca’. Dari sinilah kita kenal kata
“tadarus” atau “mudarasah“. Sehingga dua kata ini dapat diartikan
“membaca, menelaah, dan mendapatkan ilmu secara bersama-sama, di mana dalam prosesnya mereka sama-sama aktif”. Hal ini diisyaratkan dalam firman Allah s.w.t. di Ali ‘Imran:79مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ
اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ
كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا
رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ
تَدْرُسُون; tidak wajar bagi manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.”
Akan tetapi (dia berkata): Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani,
karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap
mempelajarinya”.

Sampai disini dapat dipahami bahwa, mudarasah atau tadarus merupakan
sebuah proses atau mekanisme untuk melakukan tadabur Al Qur’an.

Sedangkan kata “tadabbur” sendiri terdapat diantaranya dalam QS. An
Nisaa’ ayat 82, secara leksikal/harfiah tadabbur mengandung beberapa
filosofi makna, yakni: refleksi (reflection), meditasi (meditation),
berfikir (thinking), pertimbangan (consideration) dan perenungan
(contemplation). Mencermati rangkaian makna terbaca, kata ini memiliki
makna integral dalam konteks kecerdasan manusia; intelektual,
spiritual dan moral. Itulah kemungkinan yang dapat kita tangkap
mengapa Al-Qur’an menggunakan kata tadabbur.

Interaksi yang Produktif

Agar visi tadarus/mudarasah Al-Qur’an tercapai dengan baik maka, perlu
memperhatikan beberapa hal di bawah ini :

Pertama, memiliki pandangan integral terhadap Al-Qur’an. Al-Qur’an
merupakan dustur Ilahi yang menata dan mengarahkan kehidupan.

Kedua, pembacaan, tadabbur dan mencermati secara mendalam. Bagian ini
terwujud dengan dua hal pula :

a) verifikasi pemahaman dan ilmu kita tentang al-Qur’an.
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ
اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرً ; maka apakah mereka
tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari
sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di
dalamnya). (QS. An Nisaa’:82)

b) aktualisasi ajaran al-Qur’an dalam lapangan kehidupan nyata, bukan
sekedar pengetahuan wacana dan bersifat kognitif belaka; baik pada
tataran pribadi, keluarga dan masyarakat. Ini berarti al-Qur’an
menjadi kode etik kehidupan kita.

Ketiga, memegang komitmen yang baik tentang manhaj talaqqi. Artinya,
menancapkan dalam sanubari kita serta merasakan ‘seolah-olah’
Al-Qur’an diturunkan kepada kita dan kita berdialog aktif dengannya.

Fungsi serta Manfaat Mudarasah dan Tadabbur

1. Sarana dan media untuk menambah ilmu. Tentunya, dengan melakukan
mudarasah secara bersama-sama dengan orang lain semakin menambah
cakrawala keilmuan kita. Ingat, Rasulullah s.a.w. selalu rajin
mempelajari Al-Qur’an dan mencermati ayat-ayatnya, sehingga beliau
mengetahui dengan sempurna maksud dan maknanya dengan
tadarus/mudarasah bersama Jibril ‘alaihissalam.
2. Membantu proses menjaga Al-Qur’an yang telah kita kuasai serta
tidak mudah lupa dan lalai.
3. Memupuk dan membina rasa persaudaraan dan rasa sepenanggungan
sesama muslim. Dengan demikian, Islam telah melakukan proses
pendidikan nalar kolektif dan etika bersama; kita membangun karakter
yang kuat.
4. Sebagai sarana dan media tazkyatun nufus, mensucikan jiwa.
5. Mendatangkan rahmat dan ketenteraman bagi umat.
6. Memperbaiki kualitas tilawah.
ورتل القرآن ترتيلا ; Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan).
(Al Muzzammil:4)

Akhiru kalam, tetap semangat, tetap bergairah, dan tetap istiqomah
dalam membumikan Al Quran.

Tingkatan Surga untuk Penghafal Al-Quran

Tingkatan Surga untuk Penghafal Al-Quran. Anda di mana? 

Allah SWT telah menjanjikan balasan surga bagi orang-orang mukmin yang bertaqwa. Tingkat keimanan dan ketaqwaan masing-masing orang berbeda dengan yang lainnya. Maka di surgapun derajat mereka berbeda-beda. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa surga terdiri dari seratus derajat.

Imam Al-Qurtubi dalam kitabnya At-Tadzkiroh Fi Ahwaalil Mauta Wa Umuuril Akhirah menguraikan beberapa riwayat tentang derajat surga tersebut. Diantaranya diriwayatkan oleh Tirmidzi, dari Atha’ bin Yassar, dari Mu’adz bin Jabal bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Surga itu ada seratus tingkatan, dan setiap tingkatannya jaraknya antara bumi dan langit. Tingkatan yang paling tinggi ialah surga Firdaus, dan yang paling utama juga surga Firdaus. Daripadanyalah mengalir sungai-sungai surga. Apabila kalian memohon kepada Allah, mohonlah surga Firdaus,” Kata Tirmidzi, Atha’ bin Yassar itu tidak mendapati Mu’adz bin Jabal.” Tetapi setahu saya, hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah secara sahih dan dengan isnad yang muttasil, seperti yang sudah dikemukakan sebelumnya.

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Wahab, dari Abdurrahman bin Ziyad bin An’am, dari Utbah bin Ubaid adh-Dhabyi, dari seorang perawi yang meriwayatkan hadist ini kepadanya bahwa seseorang datang kepada Nabi saw dan bertanya, “Wahai Rasulullah, ada berapa tingkatan di surga ?” Beliau menjawab, “Seratus tingkatan.. jarak masing-masing tingkat adalah setinggi bumi dan langit. Di tingkat pertama, kamar, rumah, pintu, ranjang, dan kunci-kunci pintunya terbuat dari perak. Di tingkat kedua, kamar rumah, pintu, ranjang, dan kunci-kunci pintunya terbuat dari emas. Dan di tingkat ketiga, kamar rumah, pintu, ranjang, dan kunci-kunci pintunya juga terbuat dari permata, mutiara, dan zamrud. Sedangkan, sembilan puluh tujuh tingkatan lainnya tidak ada yang mengetahuinya selain Allah.”

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Nabi SAW bersabda, “sesungguhnya di dalam surga ada seratus tingkatan. Seandainya seluruh makhluk alam berkumpul di salah satu tingkatannya saja, masih cukup menampung mereka.” Kata Tirmidzi, hadits ini gharib.

Derajat Ahli Qur’an
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ketika seseorang yang rajin membaca Al-Qur’an dimasukkan dalam surga, dikatakan, ‘bacalah dan naiklah.’ Ia pun membaca sambil naik dengan setiap ayat satu tingkatan sampai akhirnya ia membaca ayat terakhir yang ada bersamanya.”

Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dikatakan kepada orang yang tekun membaca Al-Qur’an,”Bacalah dan naiklah dengan pelan-pelan, seperti kamu membacanya sewaktu di dunia, karena sesungguhnya tempatmu ada pada ayat terakhir yang kamu baca.”

Diriwayatkan oleh Abu Hafash Umar bin Abdul Majid al-Qarsyi al-Mayanisyi dalam kitabnya Al-Ikhtiyar Fia l-Malah Min al Akhbay Wa Al-Atsat dari Ibnu Abbas bahwa Nabi SAW bersabda, “Tingkatan-tingkatan surga itu sesuai dengan ayat Al-Qur’an, dan setiap ayat satu tingkatan. Padahal di dalam Al-Quran itu terdapat enam ribu dua ratusenam belas ayat. Jarak antara masing-masing tingkatan adalah seperti kira-kira antara langit dan bumi, dan berakhir pada puncak ‘illyyin yang memiliki tujuh puluh ribu tiang terbuat dari intan permata yang sanggup menerang: jarak sejauh perjalanan selama tiga hari tiga malam.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah bahwa Aisyah berkata, “Sesungguhnya jumlah ayat Al-Qur’an itu sesuai dengan jumlah tingkatan surga, Tidak ada seorangpun penghuni surga yang lebih utama daripada orang yang rajin membaca Al-Qur’an.” Demikian dituturkan oleh al-Makki.

Menurut para ulama ahli sunnah wal jamaah, orang-orang yang hafal Al-Qur’an dan orang-orang rajin membacanya, adalah yang tahu akan hukum-hukum halal haramnya dan yang sekaligus mengamalkannya. Menurut Malik, ada sementara orang yang rajin membaca Al-Qur’an, tetapi ia tidak memiliki kebajikan sama sekali karena ia tidak ikhlas, seperti yang sudah dikemukakan sebelumnya dalam hadits a; Abbas bin Abdu; Muthalib and juga hadits Abu hurairah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Abu Hadbah alias Ibrahim bin Hadbah, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain tetapi ia tidak mengamalkan isinya atau bahkan membelokkannya, maka Al-Qur’an akan menjadi saksi dan penuntunnya ke jahanam. Dan barangsiapa mempelajari Al-Qur’an lalu ia mengamalkan isinya maka Al-Qur’an akan menjadi saksi dan penuntunnya ke surga.”

Sebagaimana sudah dikemukakan sebelumnya bahwa surga itu memiliki seratus tingkatan, dan Allah menyediakannya buat orang-orang yang berjihad pada jalan-Nya. Jihad memang dijanjikan seratus derajat surga, tetapi membaca Al-Qur’an dijanjikan seluruh derajat yang ada di dalamnya.(mu/frz/orn/Kitab At-Tadzkiroh Fi Ahwaalil Mauta Wa Umuuril Akhirah halaman 960-963)

Menghafal Al-Quran Plus Tadabburnya

Tingginya angka buta aksara Al-Qur’an, rendahnya keinginan memiliki al-Qur’an terjemah, apalagi buku-buku tafsir, membaca tanpa memahami, menghafal miskin penghayatan, menjadikan ayat sebagi jimat, memandang Al-Qurán hanya sebagai bacaan biasa, tadarus sekedar untuk khatam/tamat dan mendapatkan pahala adalah pemandangan umum masyarakat Indonesia. Hal itu semakin diperparah lagi oleh perilaku agamawannya yang tidak sungguh-sungguh dalam mendakwahkan Al Qurán. Atas dasar itulah, Bachtiar Nasir, Lc mendirikan Ar Rahman Quranic Learning (AQL) Center Jakarta. Di antara programnya adalah Gerakan Nasional Tadabbur Qur’an (GNTQ), baik segmen umum maupun remaja. Berikut ini petikan penjelasan pria alumnus Ponpes Gontor ini tentang pentingnya tadabbur Al Quran saat menghadiri Milad ke-24 YDSF Maret 2011 lalu:

Mengapa kita harus tadabbur Al Quran?
Saya menemukan data sekitar 12 % saja dari umat Islam yang punya Al Quran terjemahan. Enam bulan lalu di sebuah kotamadya yang tergolong relijius juga menunjukkan data yang tidak jauh beda. Saya baru mengetahuinya ketika ada MTQ Nasional diadakan di sana saat itu.

Inilah yang dikuatirkan Rasulullah Muhammd saw. bahwa umatnya tidak mengacuhkan atau tidak mempedulikan Al Quran. Allah mengabarkan dalam surat , “Berkatalah Rasul, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang diabaikan.’”

Diabaikan dalam terjemahan ayat di atas berbunyi mahjuro. Makna dari tidak mempedulikan Al Quran (hajrul quran) antara lain tidak sungguh-sungguh membaca dan mendalami (tadabbur) Al Quran. Kebanyakan kita ketika berinteraksi atau bergaul dengan Al Quran ada empat pola:
Dibaca kalau sempat
– Dipelajari (tadabbur) kalau lagi mood
– Dihayati kalau kena musibah
– Diamalkan kalau menguntungkan

Bagaimana cara tadabur Al Quran?
Cara tadabbur Al Quran telah diajarkan Rasulullah saw. sebagaimana termaktub dalam doa beliau sesudah membaca Al Quran. Doanya berbunyi Allohummarhamni bil qur-an waj’alhu li imaman wa nuron wa hudan wa rohmah. Allohumma dzakkirni minhu ma nasitu wa ‘allimni minhu ma jahiltu warzuqni tilawatahu ana-al-laili wa ana-an nahar waj’alhu li hujjatan ya rabbal ‘alamina
‘Ya Allah, curahkanlah rahmat kepadaku dengan Al Quran, jadikanlah ia bagiku imam (pemimpin), cahaya, petunjuk, & rahmat. Ya Allah, ingatkanlah apa yang telah aku lupa dan ajarkan kepadaku apa yang tidak aku ketahui darinya, anugerahkanlah padaku kesempatan membacanya pada tengah malam dan siang, jadikanlah ia hujjah (argumentasi) yang kuat bagiku, wahai Tuhan seru sekalian alam.’

Maka tadabbur Al Quran yang afdol itu di tengah siang saat pikiran sedang kuat. Dan di tengah malam ketika suasana hening dan pikiran sedang tenang. Tengah siang dan tengah malam itu ibarat tayangan tv ibarat prime time (sambil tersenyum). Jadi jangan mentadabburi Al Quran dalam waktu sisa dan tenaga sisa.

Curhatlah dengan Allah melalui Al Quran. Ikuti adab-adab membaca Al Quran. Kalu ingin sungguh-sungguh belajar Al Quran, cari guru yang barakatul ustdaz (guru cari barakah) bukan cari uang. Cari guru yang berkah, bukan komersil. Tapi kalau ingin menghormati mereka, hargailah yang terbaik.

Ada infomasi menarik dari seorang peneliti LIPI. Ternyata, jika ingin memahami ruang angkasa secara tepat, NASA (badan antariksa AS) selalu mencari informasi dari Al Quran. Ada sejumlah keterangan ilmiah dalam Al Quran yang baru terbukti saat ini. Misalnya penggunaan kata istawa dan mi’raj (dalam isra mi’raj). Setelah menceritakan proses penciptaan alam semesta, Allah swt. naik (istawa) ke langit lalu bersemayam di Arsy yang Agung. Sedang bagi Rasululah saw, Al Quran menggunakan kata mi’rajuntuk menuju langit hingga ke Sidratul Muntaha. Kalau istawa bermakna naik secara tegak lurus vertikal ke atas. Sedang mi’raj berarti naik secara diagonal, tidak vertikal tegak.

Berdasar penelitian dan kemudian digunakan dalam peluncuran pesawat ulang alik kedua teknik terbang ini punya ciri tertentu. Ternyata gaya vertikal dianggap terlalu berat karena gaya gravitasi bumi dan akan menimbulkan bergesekan dengan atmosfer yang berakibat fatal bagi pesawat. Karena itu, setelah ketinggian tertentu pesawat harus miring dengan jarak tertentu melewati secara bertingkat di beberapa jalur lapisan atmosfer hingga masuk ruang hampa di orbit bumi. Jalur inilah yang paling minimal gesekannya yang oleh ilmuwan disebut Milky Way.

Selain itu, pakar pendidikan saat ini mengajurkan untuk melatih anak-anak kita dengan dua keterampilan dasar sebelum keterampilan yang lain: speed reading (membaca cepat) dan brain mapping (pemetaan/analisis). Dua skill ini dasar dari pengembangan kecerdasan tahap lanjut. Nyatanya, dua skill ini bisa dilatih dari menghafal Al Quran. Speed reading dilatih dari membacanya, sedang brain mapping dilatih dari memetakan ayat dan halaman (lembaran) Al Quran ketika membaca hafalan.

Para pakar menemukan bahwa sel-sel otak kita seperti diaktifkan kembali ketika kita membaca Al Quran secara hafalan. Ibarat memory computer, sel-sel otak kita kembali aktif dan akan semakin bertambah memory-nya sehingga menambah performa otak.

Di sebagian masyarakat ada yang beragumen cukup membaca surat Al Ikhlas tiga kali sudah mencukupi kerena adanya dalil bahwa surat Al Ikhlash ibarat sepertiga Al Quran. Bagaimana pendapat Anda?
Kita harus bijaksana dan sabar jika bergaul dengan masyarakat seperti ini. Yang perlu kita lakukan adalah seperti firman Allah dalam surat Al A’raf 58. Artinya, “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”

Hati dan pikiran manusia ibarat tanah. Agar tanah itu subur maka kita harus menyiram, mencangkul, dan memberi pupuk. Upaya-upaya ini perumpamaan bagi kita untuk mengajak mereka mengaji lagi, berdiskusi, tukar pikiran, dan pupuknya adalah doa. Karena kalau ingin mendapatkan mutiara, kita harus selami kedalaman Al Quran. Semakin ke dalam, akan semakin banyak mutiara dengan berbagai ragamnya. Kalau cuma berdiri di tepi laut, mana bisa dapat mutiara.

Beberapa orang mengakui semakin mereka mempelajari Al Quran, minimal terjemahannya, insya Allah makin banyak hikmah yang terkandung. Kita tak akan pernah puas jika terus mentadabburi Al Quran. Tadabbur Al Quran itu memperhatikan hal-hal di balik kata. Memperhatikan ayat-ayat dengan mata lahir dan mata batin sekaligus, dari awal hingga akhir secara berulang-ulang hingga menemukan tujuan terjauh (tujuan diturunkannya Al Quran, Red.).

Tadabbur itu ibarat orang mencari-cari informasi. Padahal kita sekarang ini tiap hari sibuk mencari informasi. Ya baca koran, baca SMS, buka email, dll. Maka, bukalah hati dengan tadabbur Al Quran. Allah mengingatkan kita, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan (tadabbur) Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad 24)

Apa saja mutiara Al Quran itu?
Al Quran itu keberkahan (QS. Al An’am 92), petunjuk (QS. Al Baqarah 185), cahaya (QS. An Nisa 174), obat & rahmat (QS. Al Isra 82), dan pembeda benar salah (QS. Al Furqan 1). Jika ingin mendapatkan semua mutiara itu, ya dengan tadabbur.

Ada orang yang dianggap paham/hafal sebagian atau seluruh Al Quran tapi perilakunya tidak mencerminkan ayat yang dia hafal. Apa yang salah?
Hati manusia itu ibarat perangkat komputer. Sedang Al Quran seperti program atau software-nya. Sedangkan mentadabburi Al Quran itu seperti proses meng-install software. Al Quran itu masih data mentah. Begitu berhasil di-install, maka komputer itu akan menjalankan software itu. Jika seseorang hafal atau membaca Al Quran tapi kelakuannya tidak sesuai Al Quran, maka dia belum berhasil meng-install data mentah itu.{

Menghafal Al-Quran Menurut Al-Quran

Bagaimana menghafal Al-Quran menurut Al-Quran?

Mari kita lihat beberapa ayat yang berkaitan dengan menghafal Al-Quran dalam Al-Quran. Ini adalah bentuk tadabbur ayat-ayat Al-Quran dan dihubungkan dengan kegiatan membaca khususnya menghafal.

Mari kita mulai tadabbur ayat-ayatnya. Semoga kita bisa melaksanakannya.

Pertama: Niat ikhlas karena Allah SWT. Allah hanya menerima amal shalih yang dilakukan dengan keikhlasan atau mengharap ridha dan balasan dari Allah SWT. Tanpa niat ikhlas dalam menghafal Al-Quran, sia-sialah amal kita. Amal yang tidak dilakukan dengan ikhlas biasanya tidak istiqomah, tidak kontinyu, tidak ajeg. Sebentar semangat, sisanya malas. Hal itu karena motivasinya bukan karena mengharapkan pujian dari Allah tetapi bisa jadi yang dicari adalah pujian dari manusia (riya’). Semoga kita terhindar dari hal yang demikian. Allah berfirman dalam surat Al-Bayyinah 5: Padahal mereka hanya diperintahkan beribadah kepada Allah dengan keikhlasan, semata-mata taat karena (menjalankan) agama.

Seseorang yang punya niat yang ikhlas akan terhindar dari gangguan syetan yang terkutuk. Terhindar dari rasa malas. Yang terbayang adalah betapa Allah sangat sayang padanya dan mendorongnya untuk semangat menghafal Al-Quran, muraja’ah (mengulang hafalan), sering mendengarkan bacaan Al-Quran, mengamalkan isinya dan dia ingin untuk mengajarkannya kepada orang lain (dakwah).

Kedua adalah Dzikir dan Doa. Mari memulai segala sesuatu kebaikan khususnya sebelum membaca dan menghafal Al-Quran dengan dzikir dan doa terlebih dahulu. Selain tentu saja membaca ta’awudz dan basmalah, ada sebuah dzikir yang sangat disarankan agar kegiatan menghafal Al-Quran kita dimudahkan oleh Allah. Dzikir tersebut adalah membaca istighfar dan taubat yaitu.. astaghfirullahal’adziim waatuubuilaiiiih. Junjungan dan teladan kita Nabi Besar Muhammad SAW membaca istighfar dalam sehari minimal 70kali dan dalam riwayat yang lain 100x.

Apa manfaat bila kita membaca dzikir tersebut…? Disebutkan dalam Al-Quran surat Hud ayat 3: Dan hendaklah kamu memohon ampun kepada Tuhanmu (istighfar) dan bertobat kepadaNya. Niscaya (pasti) Dia akan memberikan kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang ditentukan. Dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap roang yang berbuat baik. Dan jika kamu berpaling, maka sungguh aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar (Kiamat).

Dalam ayat ke 52: Dan (Hud berkata): “Wahai kaumku! Mohonlah ampunan (istighfar) kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepadaNya. Niscaya (pasti) Dia akan menurunkan hujan yang sangat deras (rizki yang banyak). Dia (juga) akan menambah kekuatan di atas kekuatanmu. Dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa”. Dalam Al-Quran surat Hud ayat 61: ……., Karena itu mohon ampunlah kepadaNya kemudian bertobatlah kepadaNya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmatNya) dan memperkenankan (doa hambaNya).

Kesimpulannya adalah dengan membaca astaghfirullahal’adziim waatuubuilaiiiih berulang-ulang, diucapkan dengan penuh penghayatan dari hati yang paling dalam, disampaikan kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan berusaha/berjanji untuk tidak mengulangi lagi maksiat/dosa yang pernah dilakukan (tobat), Allah akan memberikan berbagai kebaikan seperti di atas. Apa hubungannya dengan praktek belajar Menghafal Al-Quran? Allah akan memberikan 1. kenikmatan menghafal Al-Quran, 2. Diberikan karunia (otak yang sehat, waktu yg lapang, guru dan ortu yang mendukung dll), 3. Rizki berupa kemudahan memahami ayat-ayat yang dibaca, lingkungan yang kondusif. 4. Kekuatan dalam menghafal Al-Quran. Kuat mengulang berlama-lama. Tidak mudah bosan. Diberikan kesabaran yang tinggi. 5. Diberikan kasih sayang (rahmat) olehNya dan diperkenankan semua keinginan / doanya. Allahuakbar. Dan itu hanya akan didapat bila kita membiasakan membaca astaghfirullahal’adziim waatuubuilaiiiih. Selamat mencoba.

Ketiga: Munculkan perasaan senang, rasa syukur dan sabar dalam belajar menghafal Al-Quran. Allah berfirman dalam surat Yunus 57-58: Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Quran) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman. Katakanlah (Muhammad): “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan

Al-Quran dengan fungsi yang banyak di atas seharusnya para pembaca dan penghafal Al Quran itu BERGEMBIRA. Mengapa? Karena usaha mereka menjaga kemurnian Al-Quran dengan menghafalkannya dibalas Allah dengan yang lebih baik daripada harta yang dikumpulkan oleh siapapun. Balasan itu adalah Surga Firdaus, tertinggi sesuai dengan hafalan dan amalan yang dia lakukan. Allahuakbar.

Berikutnya agar praktek belajar membaca dan menghafal Al-Quran bertambah-tambah nikmatnya, kita harus memperbanyak rasa SYUKUR kepada Allah. Bagaimana prakteknya? Dengan banyak membaca hamdalah, menambah dengan ketaatan dan menghindari kemaksiatan. Allah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 7: Sungguh jika kamu (pandai / banyak) bersyukur, sungguh akan AKU akan tambahkan nikmatKu kepadamu. Tetapi jika kamu tidak bersyukur (ingkar/kufur), sungguh siksaku amatlah pedih. Ya Allah.. jadikan kami hamba yang pandai bersyukur dan hindarkanlah dari azabmu. Mari memperbanyak doa: Allahumma a’inni ‘alaa dzikrika, wasyukrika wa husni ‘ibaadatika.

Yang tidak kalah penting juga dalam menghafal Al-Quran adalah memiliki sifat SABAR. Dalam Quran surat Al-Baqoroh 153 disebutkan: Dan minta tolonglah kamu dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama (senang) dengan orang-orang yang sabar. Dalam ayat yang lain, Al-Baqoroh 45-46: Sesungguhnya yang demikian itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ (dalam shalatnya). Mereka yang khusyu’ adalah mereka yang meyakini pertemuan dengan Tuhannya dan bahwa kepada Tuhannyalah semua amal akan dipertanggungjawabkan. Dalam surat Az-Zumar disebutkan: Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.

Keempat: Mulai dari yang mudah. Ya, segala sesuatu akan ringan bila dimulai dari yang mudah. Juz atau surat apa yang paling mudah dalam menghafal Al-Quran? Tentu saja paling mudah adalah surat-surat pendek yang ada di dalam Al-Quran juz 30. Biasakan menghafal Juz ‘Amma tersebut (baik dari bawah atau dari atas) dan selanjutnya ditingkatkan kepada juz 29-28-27. Bagaimana bila ingin menghafal yang mudah dari Juz Awal? Tidak ada masalah. Mulailah dari yang mudah. Misalnya dari ayat 1-5, ayat kursi dan 2 ayat berikutnya atau 3 ayat terakhir. Ayat-ayat tersebut sudah sering kita baca di dzikir al-Matsurat dan juga sering dibaca oleh para Imam Shalat Jamaah. Bila menemui ayat yang panjang, potonglah menjadi beberapa bagian kecil (ayat pendek) sehingga mudah dan ringan menghafalkannya. Setelah benar-benar hafal, praktekkan dalam shalat sunnah maupun wajib. Hal ini seperti perintah Allah dalam surat Al-Muzammil ayat 20: Maka bacalah bagian dari Al-Quran yang mudah-mudah. Bahkan diulang penegasan potongan arti ayat tersebut 2x.

Kelima: Pelan-pelan. Al-Quran adalah hidangan (makdubah) menurut Abdullah bin Masud ra. Karena ia adalah hidangan dari Allah, yang pasti nikmatnya, maka kita harus pelan-pelan atau menikmati dalam mempelajarinya, mentadaburi dan menghafalkannya termasuk mengamalkannya.

6. Sedikit-sedikit. Dalam proses belajar, perlu tahapan-tahapan (step by step). Selain perlahan-lahan dalam proses menghafalkannya, juga sedikit-sedikit ayat yang kita hafal. Sedikit jumlah ayat yang dihafal dan banyak pengulangan (murajaah). Disebutkan dalam surat Al-Insan: Inna nahnu nazzalna ‘alaikal quranal tanziila: Sesungguhnya kami telah menurunkan Al-Quran secara berangsur-angsur. Hal ini tentu dalam rangka agar umat Nabi Muhammmad mudah dalam mempelajari, menghafal dan mengamalkannya. Tidak heran bila diperlukan waktu sekitar 23 tahun untuk menurunkan 30 juz sehingga Nabi dan para sahabat lebih kurang dalam waktu tersebut mereka orang-orang terbaik dalam menyelesaikan hafalannya.

7. Tadabbur (berusaha memahami artinya). Tadabbur berarti memahami, merenungi, menghayati dan mempelajari lebih dalam ayat yang dibaca. Sebagaimana kata Ibnu Taimiyah, Al-Quran diturunkan bukan untuk sekedar dibaca, dihafalkan atau sebagai wirid. Al-Quran diturunkan untuk diamalkan. Sebelum diamalkan, perlu pemahaman terlebih dulu (tadabbur). Allah berfirman dalam surat Muhammad 24: Maka mengapa mereka tidak memahami Al-Quran (saat membaca)? Ataukah hati mereka mati (terkunci). Ibnu Umar ra juga berkata: Tidak ada kebaikan yang sempurna dalam belajar (membaca dan menghafal) Al-Quran kecuali disertai dengan tadabbur. Walisongo berkata: Moco Quran angen-angen sakmaknane. Bacalah (menghafal) Al-Quran dengan berusaha memahami arti yang tersurat. Insyaaalah dengan membaca plus tadabbur kita akan mendapatkan kenikmatan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata karena luar biasa nikmatnya.

8. Sering praktek.
9. Sungguh-sungguh,
10. Tawakkal,
11. Praktekkan dalam shalat,
12. Amalkan,
13. Ajarkan kepada yang lain,
14. Tingkatkan taqwa, hindari maksiat (Diajari oleh Allah SWT).

Bimbingan Belajar Membaca dan Menghafal Al-Quran dari NOL

Bimbingan Belajar Membaca & Menghafal Al-Quran dari NOL
Waktu Belajar: jam 5-7 pagi, 12-13 siang, 6-9 sore (Senin-Sabtu) : Dewasa
Pilihan Belajar: 1, 2, 3x sepekan @1jam/pertemuan : Dewasa
Kelas TK-SD: Senin-Jumat, ba’da ‘Asar – 17.00

Tahsin – Tahfidz – Terjemah – Tadabbur
Misi: Hidup Bahagia dengan Al-Quran
(anti galau, bingung dan anti stress)

PROGRAM I
# PRA-TAHFIDZ
# Tahsin: cara membaca dengan benar
# Tahfidz: menghafal surat2 pendek dengan artinya dengan mudah

PROGRAM II
# Tahfidz untuk Pemula
# Target: Hafal Juz 30 dengan arti

PROGRAM III
# Tahfidz untuk Umum
# Target: Menghafal surat2 pilihan

PROGRAM IV
# Tahfidz-Tasmi’ 30 Juz
# Target: Hafal 30 juz + arti
# Syarat: Minimal hafal satu juz

Program II-IV
# Syarat: Membaca Al-Quran lancar

Pendaftaran: Rp200rb
Biaya belajar berikutnya: seikhlasnya
Yatim Dhuafa: GRATIS

Fasilitas:
.- Buku Panduan Menghafal
.- Ilmu MASTer+MAMA**
.- ‘Ulumul Quran
.- Perpustakaan
.- Sertifikat

Bonus Belajar:
.- Ilmu Tafsir
.- Adab/Akhlaq
.- Qiraah Sab’ah
.- Ilmu Balaghah
.- Shalat Khusyu’
.- Thibbun Nabawi
.- Problem Solving
.- Pidato dan menulis

Pembina:
– Ust. Faishal Noor Rahman (Pengasuh KQS Ar-Rahman)
– Ust. Ibnu Mundzir S.S., M.Pd (Pengajar di UIN Malang dan MAN 1)
– Ust. Addin Kholisin, SQ, MA. Al Hafidz, Pengajar di Ma’had UIN Malang
– Ust. Mochammad Damanhuri, Al-Hafidz. Pengasuh Ponpes Darul Qur’an Buring
– Ust. Muhammad Eddy (Pengasuh Pondok ‘Ibadurrohman Kepanjen)

Pembimbing:
– Hafidz dan Hafidzah bersertikat
– Pengajar Metode MASTer
– Pengajar Metode Ummi

Info dan Daftar:
Kauny Quranic School Ar-Rahman
Kumis Kucing Dlm 46 RT5/RW2 Malang
WA: 0878-5995-2003 / 082.333.160.800

Ingin berinfaq untuk kegiatan ini? Salurkan ke BSM 711.037.6442 an. Faishal Noor Rahman

** Sertifikat Mengajar
MAMA: Menghafal Al-Qur’an Menurut Al-Qur’an
MASTer: Menghafal Al-Qur’an Semudah Tersenyum

Ayo, Moco Quran Angen-angen Sak Maknane

KaunyMalang.com

Mengenal Menghafal Al-Quran ala Super Tahfidz

Rangkuman Tanya Jawab di Training Super Tahfidz Malang
25-26 Nopember 2017 di Masjid Abu Dzar Al-Ghifari
Bersama Ust. Muhammad Ikhsan Marzuqi

Super Tahfidz Institute :

☑ Parenting
☑ Metode Super Tahfidz
☑ Mencetak Sekolah/Pondok International Super Tahfidz
☑ Kajian Bisnis (utk men support sekolah&kesejahteraan para guru)
☑ Super Tahfidz Teachers Training
☑ Dauroh Arobiyyah untuk membantu guru mempermudah cara mengajar bahasa Arab dengan mudah dan tepat.

السّلام عليكم يا استاذ
Saya ingin bertanya. Metode 200 kali dalam menghafal dalam waktu 2 jam itu bagaimana? Apakah dibaca per ayat 200x? atau per 5 baris misalnya 200 kali? atau bagaimana? bagaimana pemantauannya? berapa jumlah muridnya? جزاكم ﷲ خيرًا

Anjuran untuk pusat tahfidz balita. Jika kita ingin mewujudkan rumah tahfidz untuk balita hendaklah memperhatikan beberapa hal ini, yaitu

Pertama, Hendaklah sejak dini mengadakan kelas tahfidz untuk ibu2 hamil yang dihadiri oleh ibu calon bayi dan lebih baik lagi jika diikuti oleh ayahnya sekali seminggu 2-3 kali untuk memperkuat semangat dan mengontrol kegiatan secara bersama sehingga target yg sudah ditetapkan dapat dicapai bersama-sama.

Kedua, kegiatan kelas tahfidz untuk balita hendaklah diteruskan setelah kelahiran bayi tersebut baik di rumah atau di dalam kelas, jika di dalam kelas maka seminggu bisa dibuat 3-5 hari dengan lama asuhan di kelas selama 8 jam perhari, ini berarti pusat tahfidz untuk balita tersebut hanya mampu membantu selama 8 jam saja dari 24 jam waktu yang tersedia untuk bayi atau hanya 30% saja dari 100% asuhan tahfidz untuk balita, selebihnya yaitu sebanyak 70% lagi menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya di rumah dan ini perlu kerjasama yang kuat antara pusat asuhan tahfidz dengan orang tua jika target yang sudah ditetapkan tersebut ingin berhasil. Continue reading “Mengenal Menghafal Al-Quran ala Super Tahfidz”

Training Menghafal Asyik untuk Sekolah, Pondok, Masjid, Kantor

Alhamdulillah, kami telah berbagi training menghafal Al-Quran di beberapa pesantren diantaranya di Pondok Tahfidz Imam Bonjol Lawang, Pondok Ad-Dhuha Jember, Pondok Bani Shihab Malang, Pondok Hidayatullah Singaraja, Ma’had Kauny Insan Kamil Banyuwangi, Pondok Al-Amin Kepanjen, Pondok Askar Kauny Depok Jakarta, giliran berikutnya adalah Pelatihan Menghafal Al-Quran Semudah Tersenyum (MASTer) dan Menghafal Al-Quran Menurut Al-Quran (MAMA) di Pondok Pesantren Al-Iman Magelang 28-29 Juli 2018. Berikut ini suasana dan testimoninya.

training menghafal

Agenda Training KQS Ar-Rahman

Agenda Training MASTer (Menghafal Al-Quran Semudah Tersenyum) Tahun 2017-2018 (InsyaAllah)

Menghafal Al-Quran Semudah Tersenyum
Training MASTER di Roudhatul Muchlisin Jember, 1 Okt. ’17, sekitar 1000 peserta

28-29 Juli ’18: Ponpes Al-Iman Muntilan – Magelang
13 Juli ’18: Masjid Ar-Ridlo, Jln. Indragiri Sanan Malang
10 Juli ’18: Masjid As-Syuro PCM Sukun Depan SAMSAT Kota Malang
04 Juni ’18: Kuttab Ibnu Mas’ud Sawojajar Malang
03 Juni ’18: Pesantren Anak Shaleh 4 – BBPP Ketindan Lawang
28 Mei 18: SD Muhammadiyah 4 Sudimoro Malang
21 Mei ’18: Training Master di SMKN 2 Turen
05 Mei ’18: Training di IKADI Gondanglegi Kulon
29 April ’18: Training MASTer Plus Qiraah Sab’ah
28 April ’18: Tadabbur Alam Plus MASTer di Malang Selatan
22 April ’18: Training Menghafal Al-Quran untuk Dewasa dan Lansia – Mujahidin Malang Continue reading “Agenda Training KQS Ar-Rahman”

Bimbel Al-Quran: Menghafal Al-Quran Semudah Tersenyum

Oh ya…. Apa yang terlintas dalam pikiran Anda begitu mendengar atau membaca atau mendengar kalimat MENGHAFAL AL-QURAN? Bermacam-macam perasaannya…. pasti.

Menghafal Al-Quran Semudah Tersenyum
Pelatihan Master di Plaza Telkom Malang

Ya… survey membuktikan, apabila kalimat menghafal al-Quran ditanyakan, yang muncul adalah jawaban seperti kata-kata: menghafal al-Quran itu sulit, berat, mudah lupa, sulit nempel, banyak sekali ayatnya, apa mungkin di usia seperti saya…, mungkinkah orang sibuk seperti saya bisa menghafal al-Quran dan kata atau kalimat lainnya. Jadi sebagian besar jawabannya adalah negatif.

Menghafal Al-Quran Semudah Tersenyum
Bersama Bunda Neno, Ust Bobby Lc, Prof. Syafii Antonio di Jakarta

Dalam ilmu psikologi disebutkan bahwa apabila kita berpikiran dan berprasangka negatif, hasilnya biasanya akan negatif. Misalnya saat bangun pagi, kemudian kita katakana bahwa hari ini rasanya koq malas sekali, maka bisa dipastikan sepanjang hari ini akan diisi dengan kemalasan dan tidak bersemangat. Tetapi apabila pagi hari di saat bangun, kita mengucapkan rasa syukur dan merasa semangat apalagi ditambah dengan perasaan bahwa hari ini adalah hari terakhir kita, kita akan mengisi dengan berbagai kegiatan positif. Orang Inggris bilang: If youn think you can you can. But if you think you can’t you can’t.

Menghafal Al-Quran Semudah Tersenyum
Pelatihan Master di Kota Pasuruan

Begitu juga dalam menghafal al-Quran, seharusnya yang muncul dalam benak kita adalah kata-kata atau kalimat positif. Bahwa menghafal al-Quran itu MUDAH, MENYENANGKAN dan KEREN. Pada saat kita meyakini kata-kata ini, maka diri kita, lingkungan kita dan Tuhan kita Allah SWT akan benar-benar mengamini serta benar-benar akan memudahkan apa yang kita pikirkan dan menjadikan nyata. Rasulullah bersabda: Ana ‘inda dhanny ‘abdibii: Aku (Allah) tergantung persangkaan hambaku.

Training Master bersama Walimurid TK Ar-Ridlo dan Jamaah di Masjid Ar-Ridlo Malang

Hal lain yang membuat kita seharusnya benar-benar yakin bahwa menghafal al-Quran itu mudah dihafal adalah firman Allah dalam surat Al-Qomar. Ayat dalam surat dalam al-Quran urutan ke 54 ini diulang bahkan sampai 4x yaitu ayat 17, 22, 32 dan 40. Allah berfirman: walaqad yassarnal qurana lidzzikri, fahal min muddakir: Dan sungguh telah aku mudahkan Al-Quran untuk dijadikan pelajaran. Maka siapa yang akan mempelajarinya. Para ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan mudah dijadikan pelajaran adalah mudah dibaca, dihafal dan dipelajari baik oleh orang Arab maupun non-Arab. Buktinya, sejak Al-Quran diturunkan pertama kali sampai sekarang, telah jutaan orang yang belajar membaca Al-Quran, belajar terjemah, tafsir, tadabbur, qiraah dan lain-lain. Continue reading “Bimbel Al-Quran: Menghafal Al-Quran Semudah Tersenyum”