Belajar Mengaji di Tegal

Alhamdulillah, saat ini kami hadir di Kota Tegal Jawa Tengah. Bagi warga Muslim Tegal yang serius ingin belajar Al-Quran, mengaji dari nol, belajar menghafal dan melagukannya (qiroah), kami siap hadir ke tempat Anda atau Anda hadir di tempat kami (syarat dan ketentuan berlaku). Silakan menghubungi kami di +62.882.2796.3066.

Dalam belajar Al-Quran, yang paling menentukan keberhasilan adalah NIAT. Bila niat kita belajar mengaji benar-benar ikhlas karena Allah taala, insyaallah proses belajar mengaji akan menjadi mudah. Apapun kendalanya misalnya karena jarak, usia, belum pernah mengaji, sering lupa, tidak sabaran, mudah putus asa, tidak ada biaya akan bisa diatasi.

Dengan niat yang ikhlas, proses belajar akan menjadi menyenangkan. Tidak akan ada rasa malu/gengsi walaupun yang mengajari mengaji Al-Quran usianya lebih muda. Walaupun saat belajar mengaji sering salah dan perlu dikoreksi, dia akan enjoy, menikmati kesalahannya karena dia bersyukur mendapatkan ilmu baru. semakin ikhlas seseorang belajar Al-Quran, semakin mudah ilmu mengaji yang akan diterima.

Faktor lainnya agar kita sukses belajar Al-Quran atau mengaji baik untuk anak-anak, remaja atau dewasa bahkan lansia adalah harus ISTIQOMAH. Sepandai apapun otak kita dalam menyerap ilmu Al-Quran, apabila belajarnya setengah-setengah, tidak full, malas-malasan, hasilnya pasti akan biasa alias tidak maksimal. Mari kita membandingkan antara belajar Al-Quran dengan belajar Bahasa Inggris misalnya. Orang yang belajar Bahasa Inggris rela membayar mahal untuk kursusnya, untuk sekolahnya. Sejak SD, SMP, SMA dia belajar Bahasa Inggris. Belum lagi ditambah dengan les privat/classicalnya. Kadang dia melanjutkan S1, S2 bahkan S3 Bahasa Inggrisnya. Mengapa dia begitu semangat belajar Bahasa Inggris, padahal yang dia dapat kebanyakan hanya duniawi. Sementara belajar Al-Quran, yang didapat tidak hanya duniawi tapi juga ukhrowi. Belajar Mengaji Al-Quran akan menjadikan pahala kita bertambah-tambah. Akan menjadi syafaat di hari Kiamat. Allah taala juga akan memberikan mahkota bagi orangtuanya. Kedudukannya di Surga juga akan spesial karena berada di tingkat yang tinggi sesuai hafalannya dan tentu saja pengamalan ayat-ayatnya.

Faktor berikutnya yang menentukan kesuksesan belajar AL-Quran atau mengaji ini adalah memiliki kelompok / teman belajar. Pasti beda dong, belajar sendiri dengan belajar bersama-sama. Dengan belajar bersama-sama, kita akan lebih bersemangat. Ada rasa kompetisi antara murid satu dengan murid lainnya dalam mengaji atau belajar Al-Quran ini. Karena itu, sambil Anda belajar sendiri, cari dan ajaklah teman Anda agar suasana belajar lebih bersemangat dan saling mendukung satu dengan lainnya.

Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah peran DZIKIR DAN DOA. Ya, dzikir yang kita lantunkan setiap saat, doa yang kita panjatkan seusai shalat juga memiliki peranan penting dalam keberhasilan belajar mengaji Al-Quran, menghafal dan melagukannya. Pasti beda hasilnya bagi orang yang senang berdzikir/berdoa dengan yang tidak. Orang yang senang berdzikir dan berdoa menganggap bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah dan merasa sangat butuh pertolongan Allah taala.

Semoga kehadiran kami di Kota Tegal bermanfaat, bisa sedikit membantu warga Muslim yang ingin belajar Al-Quran dengan mudah dan menyenangkan. Silakan menghubungi kami di +62.882.2796.3066.

Keutamaan Menghafal Al-Quran Syeikh Manshur

Dalam rangkaian kunjungan Syekh Manshur ibn Ahmad As Sa’iydy Al Yamani ke mahad Al Umm Merjosari Malang.

Alhamdulillah, masya allah beliau termasuk diberi kenikmatan oleh Allah ketika berguru kepada syekh muqbil al wadhi selama 7 tahun (tahun 1973-2000) beliau belajar adab, Aqidah, Manhaj, Hadits, Fiqih dan seterusnya, dan beliau adalah menjadi penggiat Al-Qur’an menjadi Trainer bagi guru-guru Al-Qur’an. Sehingga halaqoh Al-Qur’an bisa dinamis bisa nyaman bisa sangat aktif, kemudian penuh dengan semangat dan menyenangkan, beliau keahliannya kelebihannya. Beliau keahliannya adalah memperbaiki membekali guru-guru Al-Qur’an dengan keahlian-keahlian teknis dalam mendidik anak sehingga Halaqoh Qur’an semakin hidup. Dan alhamdulillah dengan izin allah, Insya allah beliau akan bicara soal takhossus nya keahliannya menyemangati kita semua tentang Al-Qur’an, khususnya anak-anak kita yang kecil. Jadi saya berharap mudah-mudahan pertemuan ini bisa membawa kepada kebaikan demi kebaikan, membawa tambahan-tambahan kebaikan dan semangat khususnya bagi kota malang. Allahumma Aaamiinnn. (Pengasuh Pondok Pesantren Al Umm : Ust. Agus Hasan Bashori)

Setelah memuji allah swt dan juga bersholawat kepada rasulnya SAW As-Syaikh mengucapkan terimakasih nya kepada al ustadz Abu Hamzah atas kesempatan yang diberikan untuk mengadakan majelis ini. Maka kita berdo’a kepada allah SWT agar majlis ini diberi keberkahan di catat di dalam timbangan kebaikan kita dan juga agar kita diberi manfaat kemudian majlis ini adalah majlis al-Qur’an, maka kita berdo’a kepada allah SWT, jika disebut Al-Qur’an maka disebut pula ketenangan maka semoga Allah SWT memberikan ketenangan  الْسَّكِيْنَةُ kepada kita semua. Waktu yang kita miliki sekarang sedikit apalagi dengan penerjemahan maka menjadi lebih sedikit kembali, maka syekh akan berusaha untuk meringkas apa yang akan disampaikan menjadi poin-poin yang penting dan insya allah bisa tersampaikan yang diinginkan semua. Sebelum kita memulai para jama’ah sekalian, penting bagi kita untuk meresapi, memunculkan perasaan bahwasannya kita semua sekarang menjadi tamu Allah SWT dirumahnya, dan harus kita menyadari apa yang kita baca dipada malam hari ini adalah kitabullah adalah ayat Al-Qur’an dan Allah SWT sudah memberikan atau menyiapkan balasan bagi mereka yang duduk di dalam rumah allah membaca ayat-ayat Allah dan mempelajarinya. Maka kita berdo’a kepada Allah SWT agar kita di jadikan dari golongan orang-orang yang mendapat balasan itu, yaitu Allah SWT menurunkan kepada kita rahmat-nya dan As-Sakinah dan juga dipuji-puji oleh allah SWT oleh para malaikat di hadapannya, sekali lagi penting bagi kita memunculkan perasaan, memunculkan niat bahwasannya kita disini adalah duduk di rumah mempelajari ayat-ayatnya allah.

          Para saudara-saudara ku sesungguhnya Al-Qur’an ini harus kita sadari bersama, bahwasannya Allah SWT telah mengkhususkannya dengan kekhususan- kekhususan yang besar. kekhususan yang pertama keistemawaan yang pertama adalah Allah SWT telah menisbatkan Al-Qur’an ini pada dirinya sebagai kitabnya dan telah menjadikan ahlul Qur’an orang-orang yang senantiasa dekat dengan Al-Qur’an dengan sebutan ahluhu wa khosssotuh yaitu ahlu Allah SWT, dekat dengan allah SWT dan orang-orang yang istimewa di sisi Allah SWT. Dan bagaimana Allah swt memuliakannya salah satunya perlu kita ketahui dan kita sadari Allah swt telah memilih sebaik-baik nabinya untuk diturunkannya Al-Qur’an ini kepadanya dan Allah SWT telah memilih sebaik-baik umat untuk membawa Al-Qur’an ini. Dan perlu juga kita sadari, bahwasannya ketika Allah SWT menyebutkan sifat-sifat Al-Qur’an bahwasannya Al-Qur’an adalah (Haqqul Mubin) kebenaran yang jelas/ kebenaran yang nyata, (Adz-Dzikrul Hakim) peringatan yang penuh dengan hikmah dan juga Allah menyebutkan bahwasannya Al-Qur’an itu adalah  (Al Huda) petunjuk, kemudian (Rohmah) rahmat, dan (Syifa’) kesembuhan, harus kita sangat menyadari meyakini ketika membaca Al-Qur’an sifat-sifat ini benar-benar ada di dalam Al-Qur’an.

          Kalau kita bertanya kepada seorang muslim, Wahai saudaraku tolong ceritakan atau  jelaskan padaku apa itu Al-Qur’an dan ini pertanyaan yang  harus kita tanyai kita pertanyakan semuanya, apa itu Al-Qur’an? Maka apa yang harus dijawab seorang muslim terhadap pertanyaan itu. Siapa yang mau menjawab? Apa itu al Qur’an? Dan apa yang dikandung olehnya? Apa layak kita membaca Al-Qur’an tapi kita tidak tahu apa itu Al-Qur’an? Maka Al-Qur’an adalah para jama’ah sekalian, mohon dipahami dicatat. kalamullah firman Allah yang Allah turunkan dengan perantara Jibri, yaitu sebaik-baik malaikat, kepada Muhammad sebaik-baik Nabi rasulnya, kepada Umatnya sebaik-baik umat. Kandungan Al-Qur’an, apa yang ada diantara dua sampul nya dari halaman pertama sampai halaman akhir itu mengandung petunjuk bagi umat manusia, baik yang muslim maupun selain muslim. Bahkan lebih dari itu tidak hanya untuk manusia saja dan termasuk keistimewaan Al-Qur’an yang tidak dimiliki oleh kitab-kitab lainnya, bahwasannya Al-Qur’an itu diturunkan untuk umat manusia dan bangsa jin secara setara.

          Tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an ini adalah At Tafakkur yaitu memikirkan dan Tadabbur merenungkan ayat-ayat Allah yang dikandung di dalamnya baik berupa ayat-ayat Syar’iyyah maupun ayat-ayat Kauniyah yaitu yang bersifat penciptaan. Yang diharuskan atas kita para jama’ah saudara-saudaraku semuanya, ketika kita membaca Al-Qur’an harus kita pahami, kita sadari bahwasannya setiap kalimat itu diucapkan oleh Allah SWT dan Allah menginginkan dengan setiap kalimat itu makna-makna kandungan-kandungan yang wajib kita pahami. Syaikh akan menyebutkan salah satu contoh yang terjadi atau kita lewati berulang-ulang setiap harinya kurang kebih 30 sampai 50 kali. Contoh ini akan menjelaskan kepada kita bahwasannya kita selama ini berada di dalam kelalaian, bahwasannya selama ini kita membaca Al-Qur’an hanya di lisan saja tanpa memahaminya tanpa mengambil ilmunya. Mari kita berenang dan menyelami di dalam Al-Qur’an. Surat Al-Fatihah ini bukankah dia surat yang pertama yang secara urutan mushaf dalam Al-Qur’an. Sebelum kita membaca Al-Qur’an Allah memerintahkan kita untuk ber-isti’adzah kepadanya meminta perlindungan kepadanya dengan mengucapkan A’udzubillahi minas Syaitoonirrojiim aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk sebagaimana firman Allah SWT yang artinya “dan jika engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk”. Tahukah kita mengapa demikian?. Karena Allah SWT, ketahuilah tidak memperintahkan di dalam kitabnya “dan jika kamu ingin sholat, dan jika kamu ingin puasa mintalah perlindungan kepada Allah dari syetan” tidak! Namun mengatakan jika engkau ingin membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan dari Allah SWT, mengapa demikian? Karena jika kita membaca Al-Qur’an dengan benar dengan baik memahami ilmunya maka kita akan bangkit bersemangat untuk sholat, untuk puasa dan ibadah-ibadah yang lainnya, maka masuklah syetan ketika kita membaca Al-Qur’an agar kita tidak memahami apa yang kita baca dan tidak mendalami maknanya sehingga tidak bersemangat kita untuk beribadah seperti sholat dan puasa, dan setelah kita meminta perlindungan kepada Allah dari syetan, saat kita ingin membaca Al-Qur’an Allah SWT memerintahkan kita untuk memulai bacaan kita dengan mengucapkan Bismillahirrohmaanirohiim. Ini tandanya atau ini petunjuk bahwasannya Allah ingin memulai baca Al Qur’an itu dengan rohmat atau Allah ingin menurunkan rahmatnya ketika kita membaca Al-Qur’an. maka mengatakan Bismillahirrohmaan maka kata Ar-Rohmaan berarti adalah “dia dzat yang mengasihi seluruh makhluknya” baik yang beriman kepadanya maupun yang tidak beriman. Kata Ar-Rohiim yang berarti adalah “dia dzat yang maha mengasihi hambanya yang beriman kepadanya”. setelah itu Allah SWT ingin mengenalkan hambanya ingin menjadikan hambanya itu semakin dekat dengan Rabb-mereka. Maka Allah menyebutkan Alhamdulillahirobbil’aalamiin segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Kalimat Al-‘aalamiin kalimat inilah yang saat ini ingin kita maknai apa makna yang terkandung di dalamnya. Kata al-‘aalamiin itu mencakup manusia, jin, langit, bumi dan seluruh yang ada di dalamnya. Bukankah kita di sekolah-sekolah kita mempelajari dunia atau apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, dunia tumbuhan, dunia serangga, apa yang ada di gunung-gunung, apa yang ada di laut dan juga bahkan dunia jin? maka Allah SWT ingin mengatakan kepada kita bahwasannya apa yang kita pelajari ini seluruh nya dan juga dunia-dunia lainnya yang tidak terbatas itu adalah kekuasaan allah SWT seluruhnya. Dan jika kita sudah benar-benar memahami berinteraksi dengan ayat ini dengan baik, maka kita tidak akan berusaha untuk bermaksiat kepada Allah SWT. Kalau gunung dan langit saja yang mereka lebih besar, lebih sulit penciptannya lebih rumit dan tidak ada yang sulit bagi Allah SWT. maka apalah saya, seorang manusia biasa yang lemah yang tidak ada apa-apanya dibandingkan makhluk-makkhluk itu, dan Allah SWT penguasa bagi gunung, langit, dan semacamnya. Maka dengan memahami itu insya allah kita tidak akan bermaksiat lagi kepada Allah SWT.

          Saudara-saudara ku sekalian, wajib kita bertanya sebuah pertanyaan yang sulit dijawab kecuali bagi dia yang dimudahkan oleh Allah SWT, dan ini pertanyaan wajib kita pertanyakan kepada diri kita masing-masing. Apakah kita mencintai Al-Qur’an dengan kecintaan yang menjadikan kita ingin mencari lafadz-lafdadz nya dan makna-maknanya ataukah kita mencintai Al-Qur’an hanya sekedar cinta membacanya? itupun juga seringkali jarang kita membacanya. Jika kita ingin menanamkan perasaan cinta kepada Al-Qur’an, maka wajib bagi kita untuk menempuh sebab-sebab nya, jalan-jalannya.

          Maka sebab yang pertama/jalan yang pertama agar kita bisa mencintai Al-Qur’an adalah kita bertawakkal kepada Allah SWT dan mengulang-ulang do’a kepadanya agar Allah SWT menjadikan atau memberikan kepada kita rasa cinta terhadap Al-Qur’an dan kemampuan untuk membacanya di siang hari maupun di malam hari. Saya ingin menanyakan pertanyaan, bagaimana jika kita menerima sebuah surat dari seorang pemimpin dari presiden misalnya, tertulis disitu nama kita, maka apakah kita merasa senang dengan datangnya surat itu dan kita membacanya? Ataukah kita menerimanya begitu saja dan kita meletakkan di atas rak dan meninggalkannya? Apakah mungkin bagi kita untuk membaca surat dari pemimpin ini tanpa memahami apa yang dia inginkan dari kita? Apakah jika di dalam surat itu sang pemimpin memerintahkan kita untuk datang menemuinya apakah kita akan terlambat dari waktu yang sudah ditentukan. Ataukah kita akan merasa bangga dengan datangnya surat itu dan kita segera mendatangi presiden atau pemimpin itu. Maka apa yang menjadikan sebagian kaum muslimin, ketika datang kepada mereka risalah dari Allah SWT surat kepada mereka, kemudian mereka tidak membacanya kecuali dalam beberapa kesempatan saja jarang membacanya dan jika membacanya mereka tidak memahami apa yang ada di dalamnya tidak memahami maknanya, tidak memahami lafadz-lafadznya, jika di dalamnya ada perintah mereka tidak melaksanakannya, jika ada perintah untuk sholat mereka ogah-ogahan, jika ada perintah untuk puasa mereka tidak puasa, ada perintah untuk zakat mereka tidak zakat. Apakah yang seperti ini dikatakan cinta Al-Qur’an?

          Sebab ke-2 atau jalan yang ke-2 untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Al-Qur’an adalah kita membaca tentang mukjizat-mukjizat Al-Qur’an dan Mukjizat kandungan-kandungannya yang Allah menantang dengan mukjizat itu orang-orang kafir, dan juga mempelajari kisah-kisah yang disebutkan di dalam Al-Qur’an yang di dalam kisah-kisah itu ada pelajaran-pelajaran yang ditujukan untuk masyarakat muslim. Kita mencontohkan untuk contoh seperti ini ketika al-Qur’an ingin berbicara atau ingin menyampaikan pesan kepada kaum pemuda.

          Al-Qur’an Al karim mengobati 2 Masalah yang paling penting yang ada pada kaum pemuda. Masalah yang pertama yang menjangkit diri mereka dan masalah yang kedua adalah Syahwat yang menguasai atau mengalahkan kaum pemuda. Maka kita dapati Al-Qur’an Al karim mengobati, menangani 2 permasalahan yang ada pada kaum pemuda ini, yang mereka adalah tonggak islam ini dengan dua surat yang mulia. Adapun permasalahan yang pertama yaitu masalah Syubhat maka Al-Qur’an menangani nya dengan Al-Qur’an menyebutkan di dalamnya sekelompok pemuda, yang mereka lari mereka pergi untuk meyelamatkan diri dari fitnah dan mereka tinggal di dalam sebuah gua dan tinggal di dalamnya selama 300 tahun atau lebih dan Allah SWT menyebut nama mereka, mengabadikan nama mereka sampai hari kiamat. Maka allah SWT ingin kita mempelajari atau mengambil pelajaran dari surat itu, agar para pemuda mengambil pelajaran dari surat itu untuk menyelamatkan diri mereka, yang pertama adalah di dalam surat itu disebutkan para pemuda yaitu mereka berusaha kabur dari fitnah yang mereka dapati di negeri mereka sebagaimana Allah SWT mengatakan yang artinya : “dan tatkala mereka meninggalakan kaum mereka dan apa yang di sembah selain Allah SWT” adapun tadi melanjutkan terjemahan sebelumnya yaitu sebab keselamatan yang ke 2 adalah kawan yang sholih karena di dalam surat Al-Kahfi mereka adalah sekelompok pemuda dan mereka saling berkawan dalam kesholihan, adapun masalah ke 2 dalam pemuda maka ditangani dengan surat yusuf karena disebutkan di dalamnya adalah kisah nabi yusuf yang melindungi atau menjaga dirinya dari maksiat dimana pada saat itu jalan-jalan atau sarana-sarana untuk bermaksiat itu tersedia bagi nabi Yusuf namun nabi yusuf menjaga dirinya dari maksiat.

          Al-Qur’an Al-karim berbicara kepada para raja para pemimpin, berbicara kepada para Fuqaha, para Tholibul ‘ilmi, berbicara kepada kaum pria, kaum wanita, kaum pemuda, kaum yang tua maka setiap permasalahan yang ada di dalam hidup kita kecil maupun besar, kita akan dapati solusinya di dalam Al-Qur’an. Maka tersisa satu pertanyaan yang kita akan menutup majelis ini dengannya, apa hak Al-Qur’an yang wajib kita penuhi sebagai seorang pribadi muslim? yang Pertama adalah beriman dengannya maka apa yang disebutkan di dalam Al-Qur’an seluruhnya adalah benar, tidak boleh sekali-sekali untuk meragukan apa yang ada di dalamnya selama-lamanya, Hak yang kedua adalah berserah diri dan tunduk terhadap apa yang disebutkan di dalam Al-Qur’anul Karim. maka tidak boleh bagi kita untuk bertanya-tanya, kenapa kita tidak boleh melihat kepada wanita-wanita yang bukan mahram, kenapa tidak boleh bertransaksi dengan riba, kenapa tidak boleh ini tidak boleh itu, tidak boleh sekali-sekali kita untuk menolak apa yang ada di dalam Al-Qur’an selama-lamanya. Hak yang ketiga yang harus ditunaikan oleh seluruh kaum muslimin adalah mengamalkan seluruh apa yang ada di dalamnya dari segala perintah dan larangan. Apakah boleh kita membaca Al-Qur’an didalamnya disebutkan “dan dirikan-lah sholat..” lalu kita tidak mengerjakan sholat? Apakah boleh kita membaca Al-Qur’an yang disebutkan di dalamnya yang artinya “katakanlah kepada orang-orang yang beriman untuk menundukkan pandangan-pandangan mereka..” lalu kita melepaskan pandangan kita begitu saja ke hal-hal yang diharamkan, oleh karena itu wajib kita untuk mengamalkan Al-Qur’an apa yang ada di dalam Al-Qur’an di dalam semua urusan kehidupan. Hak keempat dari hak-hak Al-Qur’an adalah mendakwahi manusia untuk kembali kepada Al-Qur’an dan termasuk dari dakwah kepada Al-Qur’an itu adalah mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. Dan nabi SAW telah bersabda khoirukum sebaik-baik kalian dan kata khoirukum dalam bahasa arab ini berarti sebaik-baik manusia dan Nabi SAW mengatakan “khoirukum man ta’allamal qur’aan wa ‘allamah” sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan tidak hanya itu, namun juga mengajarkannya. Dan termasuk hak al-Qur’an berikutnya yang wajib ditunaikan oleh kita khusunya para pemuda yaitu adalah menjaga Al-Qur’an dengan menghafalkannya, agar ummat bisa menikmati hasilnya ketika kita nanti tua. Tahukah anda bahwasannya jika kita selesai membaca Al-Qur’an khatam, kita telah memperoleh 30 juta kebaikan dan lebih. Karena Nabi SAW mengatakan “dan setiap kebaikan itu digandakan sepuluh kali lipatnya, dan aku tidak mengatakan alif laam miim itu 1 huruf, namun alif itu satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf”. Wahai para pemuda sekarang ada pemuda-pemuda seperti kalian yang mereka hafal lagu-lagu, hafal kisah-kisah yang tidak masuk akal, namun anda semuanya disini menghafal Al-Qur’an.

           Tahukah anda, jika anda berhasil menghafal Al-Qur’an, maka di hari kiamat Allah SWT akan memakaikan kepada kedua orang tua anda “Mahkota yang mulia yang terbuat dari emas” yang dipakaikan oleh Allah SWT karena engkau menghafal Al-Qur’an, dan ini pesan kepada para orang tua untuk memotivasi anak-anak mereka agar mereka mau menghafal Al-Qur’an  di pusat-pusat penghafal Al-Qur’an seperti ini, agar bisa bermanfaat bagi mereka di hari kiamat dan memakaikan pada mereka mahkota, dan terakhir. Para jama’ah wajib bagi kita untuk membaca Al-Qur’an dan memahami makna-maknanya agar kita memiliki hubungan dengan Al-Qur’an, Kita bisa berkomunikasi, kita bisa tersambung dengan Al-Qur’an. Bacalah tentang mukjizat-mukjizat Al-Qur’an, bacalah tentang kisah-kisah yang ada dalam Al-Qur’an. sehingga kita bisa berhubung, bisa memiliki keterkaitan dan memahami maknanya dengan baik.

Thoha..” tidaklah kami menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar kamu menjadi susah, namun sebagai peringatan bagi orang yang merasa takut.

Malang, 30-31 Juli 2019 (Penulis. M. Naufal R)

Rumah Tahfidz Malang

Bimbingan Belajar Membaca & Menghafal Al-Quran dari NOL
Waktu Belajar: jam 5-6 pagi, 6-7 malam (Senin-Kamis) : Dewasa
Pilihan Belajar: 1, 2, 3x sepekan @1jam/pertemuan : Dewasa
Kelas TK-SD: Senin-Kamis, ba’da ‘Asar – 17.00

Tahsin – Tahfidz – Terjemah – Tadabbur
Misi: Hidup Bahagia dengan Al-Quran
(anti galau, bingung dan anti stress)

PROGRAM I
# PRA-TAHFIDZ
# Tahsin: cara membaca dengan benar
# Tahfidz: menghafal surat2 pendek dengan artinya dengan mudah

PROGRAM II
# Tahfidz untuk Pemula
# Target: Hafal Juz 30 dengan arti

PROGRAM III
# Tahfidz untuk Umum
# Target: Menghafal surat2 pilihan

PROGRAM IV
# Tahfidz-Tasmi’ 30 Juz
# Target: Hafal 30 juz + arti
# Syarat: Minimal hafal satu juz

Program II-IV
# Syarat: Membaca Al-Quran lancar

Pendaftaran: Rp200rb
Biaya belajar berikutnya: seikhlasnya
Yatim Dhuafa: GRATIS

Fasilitas:
.- Buku Panduan Menghafal
.- Ilmu MASTer+MAMA**
.- ‘Ulumul Quran
.- Perpustakaan
.- Sertifikat

Bonus Belajar:
.- Ilmu Tafsir
.- Adab/Akhlaq
.- Qiraah Sab’ah
.- Ilmu Balaghah
.- Shalat Khusyu’
.- Problem Solving
.- Pidato dan menulis

Pembimbing:
– Pengajar Metode MASTer
– Pengajar Metode Ummi

Info dan Daftar:
Kauny Quranic School Ar-Rahman
Kumis Kucing Dlm 46 RT5/RW2 Malang
WA: 082.333.160.800

** Sertifikat Mengajar
MAMA: Menghafal Al-Qur’an Menurut Al-Qur’an
MASTer: Menghafal Al-Qur’an Semudah Tersenyum

Ayo, Moco Quran Angen-angen Sak Maknane

————————————————————————-

Bagaimana generasi terbaik Islam menghafal Al-Quran? Mari bandingkan dengan kita…. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya.

Abdullah bin Mas’ud ra : “ Sesungguhnya kami merasa kesulitan untuk menghafalkan lafadz-lafadz Al Quran tetapi mudah untuk mengamalkannya. Sedangkan generasi sesudah kami mudah menghafalkan Al Quran tetapi sulit mengamalkannya.”

Abdullah bin Umar ra: “ Dahulu orang yang utama dari Sahabat Rasulullah saw pada generasi awal ini hanya menghafal satu surat atau semisalnya dari Al Quran. Sedangkan generasi akhir dari umat ini pandai membaca Al Quran termasuk anak-anak dan orang buta. Tetapi mereka tidak dikaruniai kemampuan untuk mengamalkannya.”

Belajar Membaca, Mengaji dan Menghafal Al-Quran di Mataram Lombok

Alhamdulillah, saat ini kami memiliki cabang di Mataram Lombok. Bagi Anda yang ingin belajar Al-Quran mulai dari membaca dan menghafalkannya, silakan menghubungi kami. Ustadz dan guru kami siap datang ke rumah Anda bila jaraknya memungkinkan.

Selain belajar membaca dan menghafal Al-Quran, kami juga bisa membantu Anda belajar Bahasa Inggris, baik grammar (tata bahasa) maupun conversation (percakapan). Guru ngaji kami di Mataram Lombok selain bisa mengajar mengaji Al-Quran juga pandai Bahasa Inggris. Alhamdulillah, masyaallah.

Sama seperti di Malang, belajar mengaji dan menghafalnya dengan cara yang mudah, semudah tersenyum. Semua orang bisa mempelajarinya, anak, remaja, dewasa sampai lansia. Kami melayani belajar dari NOL. Insyaallah, Al-Quran akan membuat hidup kita lebih baik karena dengan mempelajarinya, Allah akan memberikan hidayah dan rahmat-Nya.

Syaratnya apa? Niat ikhlas karena Allah adalah yang utama. Selain itu, milikilah semangat pantang menyerah agar lebih sukses dan juga SABAR dalam proses belajarnya. Tidak ada yang instan di dunia kecuali akan berakibat kurang baik bagi siapapun.

Semoga Allah mudahkan Anda mempelajari kalamullah. Aamiin.

Perwakilan Lombok
Jln. Sultan Kharudin
Link. Gubug Memben Kel. Pagesangan Barat
Kec. Mataram – Kota Mataram
(Belakang Pemakaman Umum Sekarbela)
0819.0745.4570 (WA)

Gembira Belajar Membaca dan Menghafal Serta Tadabbur Al-Quran

Gembira Belajar Membaca, Menghafal dan Mentadabburi Al-Quran

Bismillahirrahmanirrahim

Pernahkah Anda diberi sesuatu yang sangat istimewa yang sudah lama diinginkannamun nyaris mustahil didapat karena harganya yang selangit?
Katakanlah, barang itu dikerjakan dengan ketelitian level master, mutu bahannya diambil dari kualitas tertinggi, jenisnya pun sangat langka dan hanya dibuat dalam jumlah terbatas bahkan satu-satunya. Tiba-tiba, suatu hari sebuah paket diantar ke alamat Anda dan benda itu ada di dalamnya, disertai nota singkat: “Hadiah untukmu, nikmati dan bergembiralah!” Bagaimana perasaan Anda? Sudah teramat jelas, bukan? Gembira, kaget, takjub, surprise luar biasa. Bahkan, tanpa disuruh bergembira pun Anda akan melakukannya.

Menghafal Al-Quran Semudah Tersenyum
Bersama Bunda Neno, Ust Bobby Lc, Prof. Syafii Antonio di Jakarta

Akan tetapi, sudah sangat lama ada suatu pemberian luar biasa di tengah-tengah kita, sementara kita belum juga merasa gembira karenanya. Bahkan, sampai-sampai si pemberinya menyuruh kita untuk bergembira. Sejauh itu, masih saja kita tidak menampakkan kegembiraan. Biasa-biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa. Pemberian apakah itu? Dialah Al-Qur’an.

Allah berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS Yunus: 57-58)

Sedikit renungan bagi kita. Di sini Al-Qur’an disebut dengan 4 sifat dan fungsi, yaitu mau’izhah (nasihat, pelajaran), syifa’ (obat, penyembuh), huda (petunjuk, bimbingan), dan rahmat. Inilah di antara fadha’il (keutamaan-keutamaan) Kitabullah yang paling pokok.

Sesungguhnyalah, tidak ada pemberian yang sesempurna ini. Ia merangkum semua yang kita butuhkan dalam mengarungi kehidupan. Nasihat dan pelajarannya meneguhkan hati, mengorientasikan pilihan, dan mengoreksi kesalahan. Obatnya menyembuhkan semua penyakit dan gangguan yang meresahkan jiwa, mengeruhkan hati, dan mengacaukan pikiran. Petunjuk-petunjuknya membimbing kita menuju jalan paling lurus dan terjamin keselamatannya menuju Allah. Adapun rahmatnya, ia merupakan bekal serta sandaran yang selalu kita butuhkan di atas seluruh keterbatasan, kekhilafan, dan kekurangseriusan kita. Kurang apa lagi?

Maka, sudah selayaknya kita bergembira diberi karunia sehebat itu. Tapi, benarkah kita bergembira menerimanya? Atau justru merasa susah mendapatinya? Sebenarnya, bagi orang yang benar-benar mengimami dan mengerti, Al-Qur’an itu jauh lebih baik dibanding seluruh harta dan kemegahan duniawi yang mereka kumpulkan. Ya, hanya bagi mereka yang mengimani dan mengerti.

Telitilah lembar-lembar Sirah Nabawiyah, dan akan kita dapati orang-orang yang telah memahami hakikat ini dengan sempurna. Dimulai dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri, empat khalifah pertama dan 6 orang lain yang dijamin surga, demikian seterusnya. Lihat saja Mush’ab bin ‘Umair yang melepas hak warisnya demi akidah ini. Karena iman ditinggalkannya keluarga konglomerat meski diancam tidak diberi warisan sepersen pun. Maka, pemuda yang semula dienal necis dan wangi ini, akhirnya gugur di Perang Uhud dalam kondisi tidak memakai pakaian yang cukup lebar untuk sekedar menutup jenazahnya secara sempurna.

Perhatikan pula Ummu Habibah binti Abu Sufyan yang memilih berhijrah ke Habasyah dibanding berdiam di tengah kaumnya yang kaya-raya namun musyrik. Ayahnya adalah pemimpin kaum kafir dan sangat keras memusuhi Islam. Ummu Habibah tidak peduli harus melarat di negeri asing, demi menjaga iman. Contoh-contoh lain seperti ini masih teramat melimpah.

Pada ayat di atas, kegembiraan terhadap karunia Allah berupa Al-Qur’an dinyatakan dalam bentuk fi’il amar (kata perintah). Dalam bahasa Arab, pola kalimat ini menyatakan sesuatu yang belum terjadi, masih menyimpan kemungkinan “iya” sekaligus “tidak” di dalamnya; dan disebut “jumlah insya’iyyah”. Lawannya adalah jumlah khobariyah”, yaitu pola kalimat yang isinya menceritakan sebuah fakta.

Mengapa kalimatnya diungkap dengan cara begitu? Demikianlah kenyataannya, bahwa kebanyakan kita belum bisa bergembira menerima Al-Qur’an, sehingga secara eksplisit Allah harus menyuruh kita mewujudkannya. Ayat ini tidak menyatakan: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya mereka bergembira.” Bukan begitu, sebab faktanya belum tentu demikian. Ayat ini tidak menceritakan sebuah kejadian. Ia menyuruh kita bergembira, atau mengupayakan supaya bisa bergembira, karena kegembiraan itu memang belum ada dan tidak satu paket bersama Al-Qur’an. Tapi harus diusahakan dan diperjuangkan agar menjadi ada. Maka, di sana dikatakan: “hendaklah dengan itu mereka bergembira.”

Pertanyaannya sekarang, “apakah keberadaan Al-Qur’an menggembirakan kita?” Bila belum, bagaimana upaya kita agar bisa mewujudkan perintah Allah ini? Bunyinya sangat jelas, tidak ambigu: “hendaklah dengan itu mereka bergembira.”

Sungguh Allah tahu bagaimana kita menyikapi kalam-Nya, sehingga secara khusus kita diminta bergembira. Jika saja Allah tahu bahwa kita pasti dan secara alamiah bergembira menerimanya, tentu akan dia ungkapkan di sini. Namun, karena kita tidak demikian, maka Allah pun harus menyuruhnya. Sungguh, kita memang tidak menghargai pemberian-Nya dengan sebenar-benarnya penghargaan, sehingga harus disuruh lebih dahulu. Bukankah emas, perak, dan harta benda duniawi seringkali lebih berharga dibanding firman-Nya? Astaghfirullah!

Ayat-ayat ini sekaligus menegaskan apa yang disampaikan dalam surah Al-Qalam, perihal nilai dan harga Al-Qur’an. Bahwa, dengannya hidup kita menjadi lurus, terarah, bermanfaat, bahagia, dan seterusnya. Kita tidak menjadi gila, resah, bingung, dan dipenuhi kesia-siaan. Di sana, Allah berfirman: “Berkat nikmat Tuhanmu, engkau (hai Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.” (QS Al-Qalam: 2). Wallahu a’lam. (*) Alimin Mukhtar. Kamis, 16 Syawal 1437 H.

Keutamaan Membaca dan Menghafal Al-Quran

KEUTAMAAN ALQURAN (MENYELAMI FIRMAN MENEGUHKAN IMAN)

“Inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi dan dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui”. (QS. Hud: 1)

Ibnu Qayyim dalam Muqaddimah Tahdzib Madaarij Assaalikin menuturkan, “Allah menurunkan Alqur’an untuk kita baca dengan penuh perenungan, untuk kita perhatikan dengan penuh kecermatan, agar kita bahagia dengan senantiasa mengingatnya, agar kita pahami perngertiannya yang paling baik, agar kita yakini, agar kita berusaha menegakkan semua perintah dan menjauhi semua larangannya, agar kita bisa memetik berbagai buah pengetahuan yang bermanfaat yang dapat mengantarkan kita menuju Allah lewat pohon-pohonnya, serta lewat taman dan bunganya. Ia merupakan kitab suci-Nya yang menerangi segala kegelapan. Ia merupakan rahmat-Nya, yang merupakan sebab yang menghubungkan antara diri-Nya dan para hamba-Nya, jika semua sebab terputus. Ia merupakan pintu_Nya yang paling agung yang menjadi tempat masuk. Pintu tersebut terbuka jika semua pintu lainnya tertutup.

Ia adalah jalan lurus yang menyelamatkan semua pandangan dari penyimpangan, zikir bijaksana yang mengendalikan nafsu, serta karunia yang selalu dibutuhkan para ulama. Berbagai keajaiban darinya tidak pernah lenyap, bagian-bagiannya tidak terlepas, ayat-ayatnya tidak pernah pudar, serta petunjuk-petunjuknya tidak bertentangan. Setiap kali mata hari ini merenungkannya, maka akan semakin mendapat petunjuk dan makin terlihat. Setiap kali dikaji, ia dengan sangat deras memancarkan mata air kearifan. Ia adalah cahaya yang mencerahi mata hati, obat yang menyembuhkan hati dari berbagai penyakit, serta kehidupan kalbu, kenikmatan jiwa, taman kalbu, dan pendorong ruh menuju alam bahagia. Itulah kalbu yang telah berinteraksi dengan alqur’an”.

Pernyataan ini merupakan hasil alamiah yang terpaut dengan Alqur’an. Jiwanya penuh dengan berbagai pengertian tersebut. Setiap bejana memang hanya mengeluarkan isinya.

Lantas bagaimana pernyataan tersebut bisa terlintas dalam kalbu kita? Diantara jawaban sekaligus pertanyaan adalah, bagaimana kita berinteraksi dengan Alqur’an? Bagaimana kita hidup bersama Alqur’an? Bagaimana kita terkesan dengan Alqur’an? Bagaimana kalbu kita memberikan respons ketika kita membaca Alqur’an? Bagaimana kita memperhatikan dan mengamalkan Alqur’an? Dari sinilah amal bermula dan menjadi titik permulaan. Continue reading “Keutamaan Membaca dan Menghafal Al-Quran”

Perbedaan Qiraah, Tilawah, Tadarus dan Tadabbur Al-Quran

Qiro’ah, Tilawah, Tadarus, dan Tadabbur Al-Quran

Generasi terdahulu umat Islam dari kalangan Sahabat dan Tabi’in kata
Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah selalu berkumpul untuk tilawah dan saling
menyimak Al-Qur’an dalam rangka menata hati dan mensucikan jiwa
mereka. Rumah-rumah mereka, khususnya di bulan Ramadhan, berdengung tak ubahnya lebah-lebah, terpancari sinar, bertabur kebahagiaan.  Mereka membaca Al-Qur’an dengan tartil, berhenti sejenak pada ayat-ayat yang membuat mereka ta’jub, menangis di kala mendengar
keindahan nasehat-nasehatNya, gembira dengan kabar kebahagiaan. Mereka mentaati perintahNya sebagaimana menjauhi larangaNnya.

Dan ternyata makna qiro’ah – tilawah – tadarus – tadabur memiliki
makna yang berbeda-beda aplikasinya dalam menyikapi Al Qur’an sebagai
kitab suci bagi umat muslimin ini. Lantas apa perbedaannya ? apa saja
definisi-definisinya ? Nah, mari kita tinjau sejenak bersama-sama.

Kata “tilawah” dengan berbagai derivasi dan variasi maknanya dalam
Al-Qur’an terulang/disebutkan sebanyak 63 kali. Kata tilawah ini dalam
beberapa kitab seperti dalam al-Mishbah al-Munir fi Gharib al-Syarh
al-Kabir, Al-Shahib Ibn ‘Ibad dalam al-Muhith fi al-Lughah, Ibnu
Mandhur dalam Lisan al-‘Arab, dan dalam Mukhtar al-Shihah, secara
leksial/harfiah mengandung makna “bukan sekedar” membaca (qiro’ah).

Hemat kata, tilawah Al-Quran dapat diartikan sebagai pembacaan yang bersifat spiritual atau aktifitas membaca yang diikuti komitmen dan kehendak untuk mengikuti apa yang dibaca itu. Sedangkan qiro’ah dapat dimaknai sebagai aktifitas membaca secara kognitif atau kegiatan membaca secara umum, sementara tilawah adalah membaca sesuatu dengan sikap
pengagungan. Oleh karena itu, dalam Al Qur’an kata tilawah sering
digunakan daripada kata qiro’ah dalam konteks tugas para Rasul
‘alaihimussalam. Continue reading “Perbedaan Qiraah, Tilawah, Tadarus dan Tadabbur Al-Quran”

Tingkatan Surga untuk Penghafal Al-Quran

Tingkatan Surga untuk Penghafal Al-Quran. Anda di mana? 

Allah SWT telah menjanjikan balasan surga bagi orang-orang mukmin yang bertaqwa. Tingkat keimanan dan ketaqwaan masing-masing orang berbeda dengan yang lainnya. Maka di surgapun derajat mereka berbeda-beda. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa surga terdiri dari seratus derajat.

Imam Al-Qurtubi dalam kitabnya At-Tadzkiroh Fi Ahwaalil Mauta Wa Umuuril Akhirah menguraikan beberapa riwayat tentang derajat surga tersebut. Diantaranya diriwayatkan oleh Tirmidzi, dari Atha’ bin Yassar, dari Mu’adz bin Jabal bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Surga itu ada seratus tingkatan, dan setiap tingkatannya jaraknya antara bumi dan langit. Tingkatan yang paling tinggi ialah surga Firdaus, dan yang paling utama juga surga Firdaus. Daripadanyalah mengalir sungai-sungai surga. Apabila kalian memohon kepada Allah, mohonlah surga Firdaus,” Kata Tirmidzi, Atha’ bin Yassar itu tidak mendapati Mu’adz bin Jabal.” Tetapi setahu saya, hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah secara sahih dan dengan isnad yang muttasil, seperti yang sudah dikemukakan sebelumnya.

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Wahab, dari Abdurrahman bin Ziyad bin An’am, dari Utbah bin Ubaid adh-Dhabyi, dari seorang perawi yang meriwayatkan hadist ini kepadanya bahwa seseorang datang kepada Nabi saw dan bertanya, “Wahai Rasulullah, ada berapa tingkatan di surga ?” Beliau menjawab, “Seratus tingkatan.. jarak masing-masing tingkat adalah setinggi bumi dan langit. Di tingkat pertama, kamar, rumah, pintu, ranjang, dan kunci-kunci pintunya terbuat dari perak. Di tingkat kedua, kamar rumah, pintu, ranjang, dan kunci-kunci pintunya terbuat dari emas. Dan di tingkat ketiga, kamar rumah, pintu, ranjang, dan kunci-kunci pintunya juga terbuat dari permata, mutiara, dan zamrud. Sedangkan, sembilan puluh tujuh tingkatan lainnya tidak ada yang mengetahuinya selain Allah.”

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Nabi SAW bersabda, “sesungguhnya di dalam surga ada seratus tingkatan. Seandainya seluruh makhluk alam berkumpul di salah satu tingkatannya saja, masih cukup menampung mereka.” Kata Tirmidzi, hadits ini gharib. Continue reading “Tingkatan Surga untuk Penghafal Al-Quran”

Menghafal Al-Quran Plus Tadabburnya

Tingginya angka buta aksara Al-Qur’an, rendahnya keinginan memiliki al-Qur’an terjemah, apalagi buku-buku tafsir, membaca tanpa memahami, menghafal miskin penghayatan, menjadikan ayat sebagi jimat, memandang Al-Qurán hanya sebagai bacaan biasa, tadarus sekedar untuk khatam/tamat dan mendapatkan pahala adalah pemandangan umum masyarakat Indonesia. Hal itu semakin diperparah lagi oleh perilaku agamawannya yang tidak sungguh-sungguh dalam mendakwahkan Al Qurán. Atas dasar itulah, Bachtiar Nasir, Lc mendirikan Ar Rahman Quranic Learning (AQL) Center Jakarta. Di antara programnya adalah Gerakan Nasional Tadabbur Qur’an (GNTQ), baik segmen umum maupun remaja. Berikut ini petikan penjelasan pria alumnus Ponpes Gontor ini tentang pentingnya tadabbur Al Quran saat menghadiri Milad ke-24 YDSF Maret 2011 lalu:

Mengapa kita harus tadabbur Al Quran?
Saya menemukan data sekitar 12 % saja dari umat Islam yang punya Al Quran terjemahan. Enam bulan lalu di sebuah kotamadya yang tergolong relijius juga menunjukkan data yang tidak jauh beda. Saya baru mengetahuinya ketika ada MTQ Nasional diadakan di sana saat itu.

Inilah yang dikuatirkan Rasulullah Muhammd saw. bahwa umatnya tidak mengacuhkan atau tidak mempedulikan Al Quran. Allah mengabarkan dalam surat , “Berkatalah Rasul, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang diabaikan.’”

Diabaikan dalam terjemahan ayat di atas berbunyi mahjuro. Makna dari tidak mempedulikan Al Quran (hajrul quran) antara lain tidak sungguh-sungguh membaca dan mendalami (tadabbur) Al Quran. Kebanyakan kita ketika berinteraksi atau bergaul dengan Al Quran ada empat pola:
Dibaca kalau sempat
– Dipelajari (tadabbur) kalau lagi mood
– Dihayati kalau kena musibah
– Diamalkan kalau menguntungkan

Bagaimana cara tadabur Al Quran?
Cara tadabbur Al Quran telah diajarkan Rasulullah saw. sebagaimana termaktub dalam doa beliau sesudah membaca Al Quran. Doanya berbunyi Allohummarhamni bil qur-an waj’alhu li imaman wa nuron wa hudan wa rohmah. Allohumma dzakkirni minhu ma nasitu wa ‘allimni minhu ma jahiltu warzuqni tilawatahu ana-al-laili wa ana-an nahar waj’alhu li hujjatan ya rabbal ‘alamin…

‘Ya Allah, curahkanlah rahmat kepadaku dengan Al Quran, jadikanlah ia bagiku imam (pemimpin), cahaya, petunjuk, & rahmat. Ya Allah, ingatkanlah apa yang telah aku lupa dan ajarkan kepadaku apa yang tidak aku ketahui darinya, anugerahkanlah padaku kesempatan membacanya pada tengah malam dan siang, jadikanlah ia hujjah (argumentasi) yang kuat bagiku, wahai Tuhan seru sekalian alam. Continue reading “Menghafal Al-Quran Plus Tadabburnya”

Menghafal Al-Quran Menurut Al-Quran

Bagaimana menghafal Al-Quran menurut Al-Quran?

Mari kita lihat beberapa ayat yang berkaitan dengan menghafal Al-Quran dalam Al-Quran. Ini adalah bentuk tadabbur ayat-ayat Al-Quran dan dihubungkan dengan kegiatan membaca khususnya menghafal.

Mari kita mulai tadabbur ayat-ayatnya. Semoga kita bisa melaksanakannya.

Pertama: Niat ikhlas karena Allah SWT. Allah hanya menerima amal shalih yang dilakukan dengan keikhlasan atau mengharap ridha dan balasan dari Allah SWT. Tanpa niat ikhlas dalam menghafal Al-Quran, sia-sialah amal kita. Amal yang tidak dilakukan dengan ikhlas biasanya tidak istiqomah, tidak kontinyu, tidak ajeg. Sebentar semangat, sisanya malas. Hal itu karena motivasinya bukan karena mengharapkan pujian dari Allah tetapi bisa jadi yang dicari adalah pujian dari manusia (riya’). Semoga kita terhindar dari hal yang demikian. Allah berfirman dalam surat Al-Bayyinah 5: Padahal mereka hanya diperintahkan beribadah kepada Allah dengan keikhlasan, semata-mata taat karena (menjalankan) agama.

Seseorang yang punya niat yang ikhlas akan terhindar dari gangguan syetan yang terkutuk. Terhindar dari rasa malas. Yang terbayang adalah betapa Allah sangat sayang padanya dan mendorongnya untuk semangat menghafal Al-Quran, muraja’ah (mengulang hafalan), sering mendengarkan bacaan Al-Quran, mengamalkan isinya dan dia ingin untuk mengajarkannya kepada orang lain (dakwah). Continue reading “Menghafal Al-Quran Menurut Al-Quran”